Rencana Pemerintah Larang Budidaya, Petani Daun Kratom Sedih

Sementara untuk saat ini, daun kratom adalah mata pencaharian masyarakat Kapuas Hulu, setelah harga getah karet jauh dari harapan.

Rencana Pemerintah Larang Budidaya, Petani Daun Kratom Sedih
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ SAHIRUL HAKIM
Daun Kratom di Kecamatan Putussibau Selatan, para petani mulai sedih adanya rencana pemerintah melarang budi daya. 

Rencana Pemerintah Larang Budidaya, Petani Daun Kratom Sedih 

KAPUAS HULU - Sejumlah petani daun kratom (purie) di Kabupaten Kapuas Hulu merasa resah atas isu kalau daun purik tersebut akan dilarang oleh pemerintah.

Sementara untuk saat ini, daun kratom adalah mata pencaharian masyarakat Kapuas Hulu, setelah harga getah karet jauh dari harapan.

Seorang petani daun kratom asal Kecamatan Bunut Hilir, Syaparudin menyatakan, kalau dirinya sudah mendapatkan informasi kembali terkait isu Pemerintah akan melarang masyarakat untuk membudidayakan daun kratom tersebut.

Baca: Polisi Buru Pelaku Pencurian Vihara di Singkawang

Baca: Prediksi Hasil Sidang Putusan MK, Refly Harun: Bad News untuk Prabowo Tapi Saya Tak Bilang Kalah

"Tentu bagi kami sangat disayangkan sekali. Sebab daun purik adalah matapencaharian setelah getah karet, yang harganya murah. Kalau dibandingkan oleh daun kratom, dimana untuk harga mentah bisa mencapai Rp5 ribu hingga Rp7 ribu perkilogram. Sedangkan sudah remasan capat Rp20 ribu hingga Rp25 ribu perkilogram," ujarnya kepada Tribun, Kamis (27/6/2019).

Maka dari itu kata Syaparudin, diharapkan pemerintah untuk kembali mempertimbangkan supaya ada kebijakan agar tidak melarang bagi masyarakat membudidayakan daun kratom.

"Jujur inilah harapan kami sebagai masyarakat untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, dan membiayai anak kami sekolah dan kuliah," ungkapnya.

Petani daun kratom lainnya dari Kecamatan Jongkong, Ahlan sangat merasa sedih rencana Pemerintah akan melarang masyarakat untuk membudidayakan daun kratom tersebut.

"Daun kratom sudah menjadi harapan kami untuk memenuhi kebutuhan keluarga," ujarnya.

Menurutnya, apabila daun kratom betul-betul dilarang masyarakat petani daun kratom kembali harus menoreh getah karet dengan harga hanya Rp5 ribu perkilogram.

Halaman
12
Penulis: Sahirul Hakim
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved