Caleg Satu Partai Bersaing Rebut Kursi, Ireng Maulana: Parpol Harus Mampu Disiplinkan Perselisihan

Tidak heran jika ada caleg yang bekerja mati-matian dan melakukan semua cara mengumpulkan suara supaya dapat melampaui suara rekan separtainya.

Caleg Satu Partai Bersaing Rebut Kursi, Ireng Maulana: Parpol Harus Mampu Disiplinkan Perselisihan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Pengamat Politik Untan, Ireng Maulana MA 

Caleg Satu Partai Bersaing Rebut Kursi, Ireng Maulana: Parpol Harus Mampu Disiplinkan Perselisihan

PONTIANAK - Pengamat politik sekaligus akademisi Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Ireng Maulana, memberikan analisanya terkait kompetisi para calon legislatif dalam memperebutkan kursi di lembaga legislatif. 

Tak hanya persaingan lintas partai, tapi juga antara sesama caleg di internal partai itu sendiri.

Berikut penuturannya, Senin (24/06/2019): 

"Pola memperebutkan kursi parlemen dengan kerjasama tim oleh caleg di satu partai tertentu dalam satu dapil memang efektif mengkonsolidasi pemilih karena tiap caleg akan berkontribusi mengumpulkan suara dalam jumlah yang signifikan untuk jumlah kursi yang target. 

Namun, pola ini juga menyisakan tidak hanya persaingan para caleg lintas partai, tapi juga kompetisi para caleg dalam satu partai yang sama. Kompetisi ganda yakni mengalahkan caleg parpol lain sekaligus mengalahkan rekan caleg sesama partai termasuk pekerjaan yang melelahkan. 

Baca: GMKI Pontianak Harap Para Caleg Terpilih Lantang Suarakan Aspirasi Rakyat

Baca: Penetapan Caleg DPRD Pontianak Juli Ini, Zulfydar Ingin Dorong Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

Tidak heran jika ada caleg yang bekerja mati-matian dan melakukan semua cara mengumpulkan suara supaya dapat melampaui suara rekan separtainya. 

Kalah suara dengan selisih yang tipis pasti menyakitkan setelah proses melelahkan tadi sehingga hasil perolehan suara tadi akan dapat menyebabkan perselisihan sesama kader partai yg bertarung.  

Eskalasi sengketa dapat mengganggu soliditas partai. Maka dari itu, partai sebagai payung para kader harus mampu memberikan tindakan yang mampu mendisiplinkan perselisihan yang mengarah kepada perpecahan sesama kader partai. 

Parpol juga dapat memberikan sanksi untuk memberikan efek jera. Atau yang paling elegan perselisihan dapat di damaikan secara internal melalui musyawarah mufakat sesuai dgn roh demokrasi kita. 

Jika opsi-opsi tersebut tidak efektif maka mungkin ada faktor non teknis yang menyebabkan cara-cara penyelesaian buntu, antara lain misalkan konflik kepentingan pengurus parpol dengan salah satu caleg yang ingin mereka menangkan sehingga kebijakan yang dibuat malahan berat sebelah dan cenderung lebih menyakiti pihak caleg yg tidak mereka kehendaki untuk menang. 

Baca: Caleg DPRD Pontianak Akan Ditetapkan Awal Bulan Juli, Tapi Masih Tunggu Arahan KPU RI

Baca: Mengenal Lebih Dekat Rob Clinton Kardinal Caleg Ganteng yang Digosipkan dengan Chelsea Islan

Selain itu, bisa juga komitmen-komitmen yang sudah terlanjur di bangun oleh pengurus tertentu kepada caleg jagoannya dan sedapat mungkin menghadang caleg lain dapat menang. 

Terakhir, elite parpol sudah terlebih dahulu menciptakan situasi yang  memperlihatkan bahwa seolah olah ada caleg yang akan di menangkan dan ada caleg yang tidak inginkan untuk menang. Perlakuan istimewa semacam ini tentu menyisakan kekecewaan diantara para caleg sendiri karena mereka merasa dibeda bedakan sebagai kader partai. 

Nah persoalannya muncul ketika mereka yang tidak di inginkan untuk menang malahan dapat memenangkan pertarungan. Disinilah netralitas elite parpol (pengurus) di uji supaya dapat menyelesaikan perselisihan antar caleg secara berkeadilan dan benar untuk mempertahankan soliditas organisasi," 

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved