Warga Tiongkok Dominasi WNA di Kalbar

negara terbanyak pemohon izin tinggal yaitu, RRT 89 orang, Korea Selatan 41 orang, Taiwan 31 orang, Malaysia 30 orang, dan Filipina 24 orang.

Warga Tiongkok Dominasi WNA di Kalbar
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/FERRYANTO
WNA Malaysia yang terjaring razia kos dan positif narkoba, diserahkan ke Polresta Pontianak, Rabu (07/05/2019) 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rivaldi Ade

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, TRIBUN - Terkait jumlah warga negara asing, dari lima terbanyak pemohon izin tinggal, warga negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) masih mendominasi pada wilayah kerja Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak meski sudah mengalami penurunan dibandingkan 2018 sebanyak 89 orang.

"Dengan ragam maksud dan tujuan antara lain, pembicaraan bisinis, sebagai TKA, penyatuan keluarga, sosial, Penanaman Modal dan Inspeksi Cabang Perusahaan," ujar Humas Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak, Thomas, Kamis (20/6/2019).

Adapun data lima negara terbanyak pemohon izin tinggal yaitu, RRT 89 orang, Korea Selatan 41 orang, Taiwan 31 orang, Malaysia 30 orang, dan Filipina 24 orang.

Untuk data jumlah penundaan penerbitan paspor dugaan PMI-NP periode sampai Mei 2019, sebanyak 89 orang, sedangkan penolakan keberangkatan dugaan PMI-NP di TPI sebanyak 17 orang.

"Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pontianak selalu koordinasi antar instansi dan mejalin kerjasama dalam peningkatan sinergitas sebagai instansi penegak hukum baik dari kejaksaan maupun kepolisian dan lainnya," pungkas Thomas.

Baca: Pemain Layangan Masih Membandel, Bahasan Ingatkan Sudah Banyak Korban Jiwa

Baca: Usai Dilantik Jadi Sekda Kalbar, Leysandri Langsung Panggil Kepala Bapedda dan BPKAD

Sementara itu, Kasubsi Teknologi informasi, Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas III Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Angga menyatakan pihaknya mencatat ada empat warga negara asing (WNA) Malaysia melakukan nikah secara siri di Kecamatan Badau wilayah Perbatasan Indonesia-Malaysia Kabupaten Kapuas Hulu.

"Mereka (WNA) menikah tidak memiliki izin negara atau illegal dan tinggal hanya menggunakan visa berkunjung. Mereka adalah Yuyung Tien alias Apek (Sarawak-Malaysia) menikah dengan Domitila Siti merupakan warga Kecamatan Badau," ujarnya, Senin kemarin.

Terus jelas Angga yaitu, Wong Siong Ho alias Aho (Sibu-Malaysia) menikah dengan Asnah juga warga Kecamatan Badau. Kemudian, Tang Kie Hing alias Apoy, (Malaysia) menikah dengan Mamik Kusmiyati, warga Kecamatan Badau.

"Sementara ke empat WNA tersebut yaitu Saw Hock Seng alias Assu dan sudah meninggal dunia, namun sempat menikah dengan Sani juga warga Badau. Pastinya, Kami sudah memanggil orang asing itu agar melaporkan perkawinan ke Dukcapil," ucapnya.

Menurutnya, mengapa harus melaporkan perkawinan ke Dukcapil agar tercatat dalam kedudukan negara, sehingga bisa keluar izin tinggal dari imigrasi.

"Tapi disayangkan, sampai saat ini mereka itu tidak bisa menunjukkan dokumen pernikahan secara Dukcapil," ujarnya.

Dalam hal tersebut, jelas Angga pihaknya terus memantau pergerakan dan aktivitas orang asing terutama yang sudah menikah secara ada di daerah perbatasan.

"Kesulitan kita, orang asing itu hanya menggunakan visa kunjungan, dan tidak menetap karena memang jarak Malaysia dan Kecamatan Badau sangat dekat," ungkapnya.

Penulis: Rivaldi Ade Musliadi
Editor: Didit Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved