Cerita Diana Cristy, Sang Pemuda Pelopor 2019 Pontianak Aktif Jadi Volunteer Pendidikan di Daerah 3T

Banyak daerah yang telah ia kunjungi dengan berbagai keadaan yang secara langsung ia rasakan dan lihat secara nyata.

Penulis: Anggita Putri | Editor: Ishak
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Pemuda Pelopor 2019 Tingkat Kota Pontianak, Diana Cristy Nainggolan 

Cerita Diana Cristy Nainggolan, Sang Pemuda Pelopor 2019 Kota Pontianak Aktif Jadi Volunteer Pendidikan di Daerah 3 T

PONTIANAK - Menjadi Founder Ensthusiastic Youth Movement for Nation (Eymoveon) mengantarkan Diana Cristy Nainggolan meraih Juara 1 Pemuda Pelopor 2019 tingkat Kota Pontianak. 

Selama aktif di organisasi ini, ada banyak cerita dari aktivitasnya berinteraksi dengan masyarakat, khususnya di wilayah Terdepan, Terluar, Tertinggal alias 3T. 

Eymoveon merupakan organisasi yang diciptakan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia di daerah pelosok negeri dan bercita – cita tinggi untuk mencapai pembangunan pendidikan dengan mengajak para pemuda untuk menempa diri dan berkontribusi secara langsung di daerah 3T.

Selain itu ia juga sering menjadi volunteer kegiatan pendidikan dan sosial lainnya.

Baca: Diana Cristy Nainggolan Raih Juara 1 Pemuda Pelopor 2019 Kota Pontianak, Ini Profil Singkatnya

Baca: Gubernur Kalbar Beri Apresiasi, HMI Badko Kalbar Deklarasi Pemuda Pelopor Desa Mandiri

Ia juga diberi kesempatan melihat secara langsung anak anak yang bersekolah menggunakan sandal jepit dan kantong kresek, satu ruang kelas dibagi menjadi dua dengan sekat triplek bekas bahkan mereka pun tak tahu lagu laskar pelangi.

" Listrik dan sinyal pun tidak pernah menyapa. Saya teman-teman berhasil menggalang donasi untuk adik adik berupa perlengkapan sekolah dan bekerjasama dengan Yayasan Tunggadewi milik Anisa Pohan," ujarnya, selasa (11/6/2019).

Banyak daerah yang telah ia kunjungi dengan berbagai keadaan yang secara langsung ia rasakan dan lihat secara nyata.

Seperti daerah yang pernah ia kunjungi Dusun Palapasang di Entikong. Terlebih untuk mencapai daerah tersebut harus melalui perjalanan yang ekstrim mulai dari jalur darat, tanah kuning bebatuan hingga jalur air menggunakan speed (sejenis sampan).

"Saat pertama kami datang mereka baru pertama kali melaksanakan upacara bendera merah putih, uang ringgit pun beredar bebas menjadi alat transaksi karena beberapa diantara mereka bekerja dinegara tetangga. Tak ada fasilitas kesehatan, tenaga pendidik dan fasilitas yang minim dan semua serba terbaatas," ujarnya.

Baca: Pemuda Pelopor Kalimantan Barat Ingatkan Penumbuhan Jiwa Sosial

Baca: Gerbang Tani Kalbar Ajak Pemuda Pelopori Tanam Pohon

Dusun Wangkung di Nusa Tenggara Timur pun tak kalah menyedihkan. Ia melihat langsung keadaan dimana anak anak harus menempuh puluhan kilometer untuk dapat bersekolah,

Beberapa anak memilih menginap di asrama buatan yang terbuat dari runtuhan gedung lama, tampalan seng bekas disana sini, sarapan dengan nasi putih, makan siang dan malam pun hanya nasi ditemani sayur daun ubi yang ditanam di kebun belakang.

"Semua mereka lakukan demi bisa merasakan manisnya bangku sekolah walau harus berjauhan dari keluarga," ucapnya.

Selain itu ia juga pernah pergi ke Nanga Tayap di Ketapang, Riak bandung di kubu raya, dan mengikuti kegiatan kerelawanan lainnya. Banyak hal baru disetiap perjalanan yang ia lalui.

"Saya selalu mencoba mengajak teman- teman dimanapun untuk memberikan uluran tangan baik secara langsung ataupun donasi untuk memberi tawa kepada masyarakat disana," ucapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved