Semangatnya Peserta Lomba Menganyam Manik di PGD ke 34 Pontianak

Baginya yang tersulit dalam menganyam adalah penentuan warna pada anyaman, dan butuh kesabaran ekstra dalam proses menganyam.

Semangatnya Peserta Lomba Menganyam Manik di PGD ke 34 Pontianak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MARPINA WULAN
Memei yang merupakan peserta lomba menganyam manik, saat sedang menganyam di rumah Radank Pontianak. 

Semangatnya Peserta Lomba Menganyam Manik di PGD ke 34 Pontianak

PONTIANAK - Perlombaan menganyam manik pada PGD ke 34 di rumah Radank Pontianak, Jumat (24/05/2019), diikuti oleh 4 orang peserta, perlombaan ini dimulai pukul 09:00 hingga 17:00. 

Memei yang merupakan satu diantara peserta  lomba menganyam manik, saat di temui di rumah Radank Pontianak ia yang sedang menganyam menuturkan alasannya mengikuti perlombaan ini adalah sebagai upaya untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalamannya dibidang kesenian.

Baginya, seni menganyam ini tidak semua orang bisa melakukannya.

Ia bersyukur dirinya termasuk orang yang pandai dalam kesenian tersebut. 

"Senang lah pasti nya, cuma nganyam gini. Kan nda semua orang bisa dan mampu untuk berkreasi kaya gini. Orang tua saya aja gak bisa nganyam. Kalau dibilang bakat lah ya kayak gini,"  jelas Memei.

Baca: FOTO: Lomba Menumbuk Padi di PGD ke 34 Pontianak

Baca: FOTO: Lomba Menganyam Manik di PGD ke 34 Pontianak

Pada perlombaan kali ini Memei menggunakan motif Bararan yang artinya akar untuk anyamannya, motif ini berasal dari kabupaten Kapuas Hulu.

Baginya yang tersulit dalam menganyam adalah penentuan warna pada anyaman, dan butuh kesabaran ekstra dalam proses menganyam.

Memei merupakan peserta yang pada PGD ke 33 juga mengikuti lomba tersebut, ia bahkan mendapatkan posisi juara kedua pada tahun lalu.

Kini ia pun lebih bersemangat lagi untuk mengikuti lomba pada PGD ke 34 ini.

Baca: FOTO: Lomba Nangkap Babi di Pekan Gawai Dayak (PGD) Kalimantan Barat ke-34

Baca: Rangkaian Lomba di PGD, Ada Lomba Tangkap Babi Sebagai Momen Untuk Mengingat Masa Kecil

Selain mendedikasikan diri pada kesenian menganyam manik sejak usia 5 tahun, Memei juga merupakan mahasiswa aktif Institut Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (IKIP) PGRI Pontianak.

Dalam perlombaan kali ini ia juga mewakili Sanggar Sari Budaya.

Memei biasanya membuat anyaman manik berupa syal, topi, dan teratai untuk dijual, karena baginya selain mengembangkan bakat, ia juga mendapat penghasilan dari kesenian itu.

"Ya lumayan lah dari sekedar belajar bisa melestarikan kesenian Dayak, saya juga tentunya dapat penghasilan. Untuk uang jajan adalah. Saya kan tinggal di rumah betang kalau di Kapuas Hulu jadi dari kecil belajar sama ibu-ibu yang lain sampai sekarang jadi bisa," jelas Memei sambil terus menganyam maniknya. (Marpina Wulan)

Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved