TRIBUN WIKI

Kenapa Tugu Digulis Ada 11 Bambu Runcing? Ini Sejarahnya  

Tugu Digulis merupakan monumen yang terletak di Bundaran Universitas Tanjungpura, Jalan Jenderal Ahmad Yani.

Kenapa Tugu Digulis Ada 11 Bambu Runcing? Ini Sejarahnya  
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Air mancur yang belum beroperasi akibat perbaikan di bagian kolam air Bundaran Tugu Digulis, Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (19/5/2018) malam. Sudah lebih satu bulan air mancur tersebut tidak bisa dinikmati warga, setelah satu buah mobil masuk ke dalam kolam karena kecelakaan tunggal pada 6 April lalu. TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI 

Kenapa Tugu Digulis Ada 11 Bambu Runcing? Ini Sejarahnya  

PONTIANAK - Monumen Sebelas Digulis Kalimantan Barat, disebut juga sebagai Tugu Digulis atau Tugu Bambu Runcing atau Tugu Bundaran Untan oleh warga setempat. 

Tugu Digulis merupakan monumen yang terletak di Bundaran Universitas Tanjungpura, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak.

Sejarah monumen yang diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Soedjiman pada 10 November 1987 ini pada awalnya berbentuk sebelas tonggak menyerupai bambu runcing yang berwarna kuning polos. 

Baca: Tahukah Kamu? Ini 11 Pahlawan yang Namanya Diabadikan di Tugu Digulis


Pada tahun 1995, monumen ini dicat ulang dengan warna merah-putih. Penggunaan warna merah-putih ini menjadikan sebagian warga menganggap monumen ini lebih mirip lipstik daripada bambu runcing. 

Kemudian, pada tahun 2006 dilakukan renovasi pada monumen ini sehingga berbentuk lebih mirip bambu runcing seperti penampakan saat ini.

Monumen ini didirikan sebagai peringatan atas perjuangan sebelas tokoh Sarekat Islam di Kalimantan Barat, yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Barat karena khawatir pergerakan mereka akan memicu pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan.

Tiga dari sebelas tokoh tersebut meninggal pada saat pembuangan di Boven Digoel dan lima di antaranya wafat dalam Peristiwa Mandor.

Nama-nama kesebelas tokoh tersebut kini diabadikan juga sebagai nama jalan di Kota Pontianak. Kesebelas pejuang itu antara lain:

1. Achmad Marzuki, asal Pontianak, meninggal karena sakit dan dimakamkan di makam keluarga;

2. Achmad Su'ud bin Bilal Achmad, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;

3. Gusti Djohan Idrus, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel;

4. Gusti Hamzah, asal Ketapang, wafat dalam Peristiwa Mandor;

5. Gusti Moehammad Situt Machmud, asal gabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;

6. Gusti Soeloeng Lelanang, asal Ngabang, wafat dalam Peristiwa Mandor;

Baca: Tahukah Kamu, Apa Arti Nama Tugu Digulis Pontianak?

7. Jeranding Sari Sawang Amasundin alias Jeranding Abdurrahman, asal Melapi, Kapuas Hulu, meninggal karena sakit di Putussibau.

8. Haji Rais bin H. Abdurahman, asal Banjarmasin, wafat dalam Peristiwa Mandor;

9. Moehammad Hambal alias Bung Tambal, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel;

10. Moehammad Sohor, asal Ngabang, wafat dalam pembuangan di Boven Digoel; dan

11. Ya' Moehammad Sabran, asal Ngabang, meninggal karena sakit. (*)

Penulis: Maudy Asri Gita Utami
Editor: Dian Lestari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved