Muda Sambut Baik Usulan Pembangunan Rumah Aman di Kubu Raya

Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan, menyambut baik mengenai usulan untuk adanya rumah aman atau salter bagi para korban kekerasan

Muda Sambut Baik Usulan Pembangunan Rumah Aman di Kubu Raya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIVALDI ADE MUSLIADI
Bupati Kubu Raya - Muda Mahendrawan 

Muda Sambut Baik Usulan Pembangunan Rumah Aman di Kubu Raya

PONTIANAK - Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan, menyambut baik mengenai usulan untuk adanya rumah aman atau salter bagi para korban kekerasan, baik anak maupun perempuan di Kubu Raya.

“Bagus sarannya, tapi menurut saya rumah aman itu jangan cuma secara simbolik, gampang mau bikin rumah aman itu bisa saja kita langsung bikin label, kita cari tempat, bisa di puskesmas pun bisa, di salah satu aset bangunan pemkab Kubu Raya juga bisa,” katanya saat ditemui di kediamannya Minggu (21/4/2019).

Namun menurut dia, sejauh ini ia lebih ingin agar para korban tersebut tidak terlalu diekspos.

Hal itu demi kebaikan para korban, agar tidak mengalami diskriminasi, maupun tekanan dari luar.

“Sementara hasil diskusi kita, hal ini lebih baik tidak untuk diekspos, tidak usah dipublis dimana lokasinya, karena akibat atau dampaknya yang kita pikirkan,” terangnya.

Baca: Satgas Yonmek 643/Wns Sulap Pos Pamtas Menjadi PAUD

Baca: BMKG Pantau 4 Titik Panas di kalbar Hari ini

Baca: Delapan Nama Dusun yang Ada di Desa Malikian

Ia ingin agar kasus terkait anak, tidak hanya diselesaikan secara simbolik, tapi melihatnya harus secara lebih substansi, mengingat dampak yang akan ditanggung oleh pada korban.

Selama ini, adapun para korban, biasanya ditempatkan atau ditangani di kediaman para petugas terkait, seperti seperti Badan pemberdayaan perempuan maupun anak, misalnya.

Namun, beliau mengungkapkan, tetap saja, kualitas pelayanannya akan senantiasa ditingkatkan, dengan penanganan yang lebih taktis, cepat, dan efektif.

Muda juga berkata bahwa pihaknya akan berupaya untuk mencari solusi atas dilema tersebut.

“Karena begini, si korban ini seringkali tidak boleh diketahui diaman keberadaannya, itu persoalannya, jadi bukan kita tidak mau menampakkan ini dimana rumah aman. Kadang kala, ini menyangkut psikologi, jadi kalo kita justru terlalu menampilkan dimana rumah aman itu misalnya, saya kira ini juga beban psikologi, jangan sampai orang terlalu banyak datang,” terangnya.

Mkanuda khawatir, hal itu justru berdampak buruk bagi para korban.

“Bahaya kalau anak ini terlalu banyak didatangi, nanti lalu jadi beban psikologi dan membahayakan mentalnya, jadi kita juga harus hati-hati, kita juga dalam hal ini sementara menempatkan mereka di rumah keluarga atau aparat,” ungkapnya.

Penulis: Rizki Fadriani
Editor: Madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved