Awas, Wanita Lebih Berisiko Depresi Dibanding Pria

Data dari WHO menunjukkan bahwa wanita memiliki resiko 50 persen lebih tinggi menderita depresi daripada pria

Awas, Wanita Lebih Berisiko Depresi Dibanding Pria
foxnews
ilustrasi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dokter Umum RSUD Sekadau dr Stefanus Widy meminta masyarakat mencegah dan mewaspadai terjadinya depresi pada orang terdekat mereka.

“Depresi adalah kontributor dari beban kesehatan global dan dapat menimpa orang-orang dari berbagai kalangan dan di berbagai belahan dunia. Depresi dapat menyerang pria maupun wanita. Data dari WHO menunjukkan bahwa wanita memiliki resiko 50 persen lebih tinggi menderita depresi daripada pria,” ujar dr Stefanus Widy kepada Tribun, Selasa (26/03/2019).

Menurutnya, depresi mulai sering terjadi pada usia muda dan mengganggu fungsi-fungsi kehidupan atau kegiatan sehari hari dari penderita. Depresi dapat terjadi secara berulang atau kambuh. Penyebab depresi dapat berasal dari banyak hal, seperti masalah ekonomi, masalah kehidupan sosial, masalah kesehatan, dan lain-lain.

“Sebenarnya apakah depresi itu? Depresi merupakan gangguan mental yang ditandai dengan mood yang menurun (mood depresif), hilangnya minat atau rasa bahagia (anhedonia), merasa kehilangan tenaga atau energi, merasa bahwa diri bersalah atau tidak berharga, gangguan tidur yaitu tidak bisa tidur atau terlalu banyak tidur, nafsu makan yang berkurang, dan kesulitan berkonsentrasi,” paparnya.

Pria yang akrab disapa dr Widy ini menjelaskan, depresi juga sering memiliki gejala berupa rasa cemas. Masalah ini dapat menjadi masalah yang kronis atau berulang dan menimbulkan gangguan pada aktifitas sehari-hari pada penderita, dan hal terburuk yang bisa terjadi akibat depresi adalah keinginan atau tindakan bunuh diri.

Dr Widy mengatakan, depresi dapat dikategorikan menjadi ringan, sedang, dan berat, tergantung dari tingkat keparahan gejala yang timbul, pada kategori ringan, penderita akan kesulitan dalam menjalankan fungsi kehidupan nya seperti beraktifitas sehari-hari baik dalam pekerjaan atau dalam aktifitas sosial, namun tidak sepenuhnya kehilangan fungsi kehidupannya.

“Artinya, penderita masih bisa beraktifitas sehari-hari, namun tidak sebaik biasanya. Sedangkan dalam kategori depresi berat, penderita biasanya benar-benar tidak dapat melakukan aktifitas-aktifitas sehari-hari seperti bekerja, bersosialisasi, atau kegiatan lainnya,” jelasnya.

Dukungan dari keluarga dan orang sekitar, kata dr Widy, sangat dibutuhkan bagi penderita depresi. Keluarga harus memiliki kesabaran dalam menghadapi penderita depresi, dikarenakan penderita depresi memerlukan waktu untuk memulihkan dirinya.

Perhatian khusus, lanjutnya, juga harus diberikan kepada penderita yang memiliki ide bunuh diri, atau pernah melakukan percobaan bunuh diri, dikarenakan ide atau percobaan bunuh diri pada penderita depresi sering muncul berulang kali.

“Penderita depresi sebaiknya dibawa berobat kepada dokter spesialis kejiwaan untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik, terutama pada penderita yang memiliki keinginan atau pernah melakukan percobaan bunuh diri,” pungkasnya. (*)

Penulis: Iin Sholihin
Editor: Iin Sholihin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved