Lanud Harry Hadisoemantri Waspada TBC Melalui Giat Ceramah dan Penyuluhan

Pangkalan TNI AU Harry Hadisoemantri (HAD) melaksanakan kegiatan ceramah dan penyuluhan tentang penyakit

Penulis: Maudy Asri Gita Utami | Editor: Madrosid
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Pangkalan TNI AU Harry Hadisoemantri (HAD) melaksanakan kegiatan ceramah dan penyuluhan tentang penyakit Tuberkulosis (TBC) bertempat di Balai Prajurit Danu Setiawan Lanud Harry Hadisoemantri, Kamis (21/3/2019) kemarin. 

Citizen Reporter
Kapen Lanud Harry Hadisoemantri (HAD)
Lettu Sus Eko Purwanto

Lanud Harry Hadisoemantri Waspada TBC Melalui Giat Ceramah dan Penyuluhan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, BENGKAYANG - Pangkalan TNI AU Harry Hadisoemantri (HAD) melaksanakan kegiatan ceramah dan penyuluhan tentang penyakit Tuberkulosis (TBC) bertempat di Balai Prajurit Danu Setiawan Lanud Harry Hadisoemantri, Kamis (21/3/2019) kemarin.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh seksi Kesehatan Lanud HAD dikarenakan masih banyak dari anggota dan keluarganya belum paham tentang apa itu penyakit TBC yang hingga saat ini merupakan salah satu penyakit yang mematikan dan menjadi momok bagi masyarakat Indonesia.

Sehubungan dengan kasus tersebut Seksi Kesehatan Lanud Harry Hadisoemantri mengadakan penyuluhan, pengetahuan, dan bagaimana tindakan prefentif yang harus dilakukan oleh setiap individu.

Kegiatan ini dihadiri Komandan Lanud Harry Hadisoemantri, Letkol Pnb Kisworo dan Ketua PIA Ardhya Garini Cabang 18/ Daerah I, Ny. Atit Sukaesi Kisworo, para pejabat, para perwira, bintara, tamtama, PNS dan ibu-ibu pengurus dan anggota PIA Ardhya Garini, Lanud Harry Hadisoemantri.

Ceramah dan penyuluhan ini dipandu oleh Serda Abdullah Aziz Khoiri jabatan sehari-hari Bintara Perawat Urdukkes dan sekaligus sebagai narasumber.

Dalam ceramahnya, Abdullah Azis menghimbau kepada seluruh warga Lanud HAD, untuk mengetahui dan memahami tanda-tanda atau gejala jika seseorang mengidap penyakit TBC, penyakit yang menjadi pembunuh nomor 3 di Indonesia. Jadi, penyakit ini adalah penyakit yang berbahaya, bila tidak segera diketahui.

Sementara itu Kepala Seksi Kesehatan Lanud HAD, Letda Kes dr. Aprimond Shuhar mengatakan tentunya bukan cuma tanda gejala saja untuk mendiagnosa seseorang itu mengidap atau tidak, perlu ada tindakan laboratorium dengan pengecekan dahak yang bersangkutan.

"Biasanya seseorang yang dicurigai mengidap TBC adalah batuk berdahak bahkan berdarah yang berkelanjutan 3 sampai 4 minggu setelah berobat dan belum juga sembuh dan masih banyak tanda gejala lainnya," pungkasnya.

Tidak hanya sebagai pendengar saja, para peserta sosialisasi juga diberikan kuisioner untuk diisi guna mengetahui bahwa dirinya terdapat gejala TBC seperti batuk berdahak, batuk berdarah, berat badan turun drastis selama beberapa bulan terakhir dan sebagainya.

Selanjutnya sebagai tindakan prefentif/pencegahan untuk mengurangi resiko tertularnya penyakit akibat bakteri mycrobacterium tuberculosis tersebut adalah, membiasakan hidup sehat dan lingkungan yang bersih serta sehat.

Perlu diketahui penyakit TBC sendiri merupakan penyakit menular langsung, yang ditularkan antar manusia lewat semburan dahak atau udara. Penyakit ini sebenarnya bisa disembuhkan asalkan pasien mengonsumsi obat secara teratur.

Namun sayangnya jangka waktu yang cukup lama yaitu sekitar 6(enam) bulan pengobatan, menjadi faktor pasien malas untuk mengonsumsi obat secara terus menerus.

Kalau tidak teratur minum obat bisa jadi TB latent dan bisa resisten. Kalau resisten obatnya semakin banyak yang diminum dan lama pengobatan juga bertambah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved