Pesona Kulminasi

Muzirwan: Kulminasi Terjadi Penanda Peralihan Musim

Kejadian kuliminasi dimana matahari tepat berada di titik 0 derajat, Lintang Utara dan Lintang Selatan.

Muzirwan: Kulminasi Terjadi Penanda Peralihan Musim
TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA
Pengunjung mendirikan telur saat terjadinya kulminasi matahari di Tugu Khatulistiwa, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (21/3/2019). Kulminasi matahari terjadi pada pukul 11.50 WIB. 

Muzirwan: Kulminasi Terjadi Penanda Peralihan Musim 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Lembaga  Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Pontianak, Muzirwan menjelaskan peristiwa datangnya detik-detik  kulminasi merupakan momentum fenomena alam tahunan.

Setiap tahunny, Muzirwan menjelaskan terdapat dua kali kulminasi yang terjadi, pertama 21-23 Maret dan kedua 21-23 September.

Kejadian kuliminasi dimana matahari tepat berada di titik 0 derajat, Lintang Utara dan Lintang Selatan.

Baca: Effendi: Ada Dua Faktor Penyebab Kurang Optimalnya Pelayanan Publik

Baca: Pemkab Kapuas Hulu Sudah Siapkan Bayar Gaji 13 dan 14

Kala tiba detik-detik Kulminasi yang jatuh pada pukul 11.50 WIB maka bayangan  benda yang berdiri tegak lurus digaris Khatulistiwa bayangannya akan hilang.

"Benda yang berdiri tegak  ini pas saat detik kulminasi tidak ada bayangan karena matahari pas digaris 0 derajat," ucap Muzirwan saat diwawancarai, Kamis (21/3/2019).

Saat terjadi kulminasi jarak matahari akan  mendekati bumi, sehingga suhu sedikit naik, namun tak terlalu signifikan dan membahayakan.

Lanjut disampaikannya bahwa kulminasi ini menandakan akan bergantinya musim. 

"Efek lain dari kulminasi ini tidak signifikan, walaupun memang matahari dekat dengan bumi karena tepat berada dilintasan tapi tidak signifikan dan terjadinya kulminasi ini menandakan pergantian musim," jelas Kepala LAPAN Pontianak.

Baca: KPU Kalbar Gelar Rekap DPTb Tahap Dua

Baca: Muda Apresiasi Program Pengadilan Agama Sungai Raya

Saat kulminasi yang terjadi bulan Maret, maka menandakan musim hujan ke musim kemarau,  saat bulan September kulminasi terjadi perpindahan musim kemarau ke musim hujan.

Pada acara Pesona Kulminasi yang dipusatkan di Tugu Khatulistiwa, Muzirwan menambahkan bahwa pihaknya membawa teropong  canggih untuk melihat matahari.

"Kita menyiapkan teropong untuk meliht matahari, masyarakat dapat melihatnya. Teropong ini dapat melihat mataharinya. Teropong ini dapat digunakan juga  melihat bulan dan gerhana," tambahnya.

Terkait dengan  beridirinya telur , Muzirwan menjelaskan  secara riset belum bisa dijelaskan, tapi kenyataannya bisa berdiri karena ada keseimbangan antara bumi belahan utara dan selatan.

Penulis: Syahroni
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved