Temajuk, Desa Eksotis dan Sejumlah Persoalan Sosial

Temajuk adalah desa di ujung Pulau Borneo yang menyimpan sejuta keindahan alam.

Penulis: Hamdan Darsani | Editor: Madrosid
ISTIMEWA
Pemandangan di Pantai Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. 

Menurut kami, dalam proses belajar mengajar ketersediaan infrastruktur dan fasilitas belajar tidaklah menjadi masalah yang serius.

Ruang kelas, kursi, meja, dan buku-buku modul belajar juga telah tersedia meskipun seadanya.

Akan tetapi yang terpenting adalah kualitas dan kuantitas dari tenaga pengajar, sebab dari situlah akan timbul semangat belajar yang ditularkan dari seorang guru. Karena mengajar adalah memberikan teladan.

Terkontaminasi Pergaulan Bebas dan Budaya Asing

Desa temajuk termasuk daerah yang sangat jauh dari keramaian. Dapat dikatakan pula bahwa Temajuk merupakan daerah yang masih masuk kategori 3T, tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia.

Namun disisi lain, temajuk menyimpan sejuta keelokan alam yang tidak ditemukan di daerah lain.

Mulai dari Laut dan pantainya yang indah, bukit nya yang eksotis, serta kearifan lokal dan budaya masyarakatnya yang masih dijunjung tinggi.

Sehingga desa ini menjadi tempat pariwisata yang dikagumi baik turis lokal ataupun mancanegara.

Sisi buruk daerah wisata yang didatangi oleh turis-turis adalah masalah penetrasi budaya asing yang merusak budaya lokal. Tak sedikit para turis asing menjadikan Temajuk sebagai tempat tujuan untuk berpesta pora, berfoya-foya, dan bersenang-senang ala budaya barat.

Sehingga budaya seperti, kumpul kebo, pacaran, rokok, seolah-olah menjadi bahan tontonan bagi para anak dibawah umur.

Sayang, tempat wisata yang dapat menopang ekonomi masyarakat namun disisi lain, justru menjadi bumerang bagi akhlak dan moral kaula mudanya.

Tak heran, jika dijalan atau dipojok lapangan didapi dua sejoli tanpa ikatan bermesraan, anak seumuran SD dan SMP merokok di sekolah, anak SMA ngelem.

Bahkan yang sangat encengangkan, kami dapati informasi bahwa narkoba pernah beredar di kampung ini.

Lentera di Surau Amat Redup Cahayanya

Bapak Hariyanto, adalah satu-satunya mubaligh berusia 35 tahun yang berada di tanah Temajuk.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved