Citizen Reporter

Petani Resah Harga Sawit Merosot Jelang Natal dan Tahun Baru

Harga barang kebutuhan pokok naik sedangkan harga Kalau cangkau yang ngambil dihargai Rp 700-800 per kilogram

Penulis: Ramadhan | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Petani Sawit Sedang Mengumpulkan Tandan Buah Segar (TBS), di Kecamatan Sebangki, Kabupaten Landak. 

Citizen Reporter

Mahasiswa IAIN, Saniwi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Petani sawit di Kecamatan Sebangki, Kabupaten Landak, resah akibat merosotnya harga sawit menjelang natal dan tahun baru.

Masyarakat mengaku kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dikarenakan menurunnya harga kelapa sawit tandan buah segar (TBS) beberapa bulan yang lalu sampai saat ini.

Baca: Nursiah Terbangun Hendak ke Toilet Saat Rumahnya Terbakar

Apalagi mendekati natal dan tahun baru kebutuhan masyarakat semakin meningkat dari bulan-bulan sebelumya, mengingat untuk merayakan natal dengan kesempurnaan natalnya.

Sehubung natal itu bersamaan dengan tahun baru M, kebiasaan masyarakat khususnya para remajanya merayakan tahun baru di perkotaan. Mengingat di Kecamatan Sebangki merayakan tahun baru dengan seadanya, berbeda dengan diperkotaan yang penuh dengan kemerihan. 

Dengan kebutuhan masyarakat yang meninggi menjelang natal dan tahun baru, penghasilan masyarakat tidak sesuai dengan kebutuhannya.

Baca: Didip Ajak Warga Kalbar Kunjungi Objek Wisata Daerah

Hal tersebut di ungkankan oleh pak Niko warga desa sungai Segak bahwa harga sawit merosot jauh.

"Harga TBS anjlok, sekarang ini berkisaran Rp 700-800 rupiah dengan tingkat TBS tertentu," ujar Niko saat di wawancarai, Minggu (23/12/2018)

Niko mengaku sangat keresahan dengan menurunnya harga sawit, karena dirinya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi mendekati natal dan tahun baru, kebutugan semakin banyak.

“saya sangat resah dengan menurunnya harga sawit saat ini, karna untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak sesuai dengan pendapatan pokok. Apalagi mendekati natal dan tahun baru, kebutuhan semakin banyak, seperti kebutuhan terhadap anak dan istri yang harus berganti pakaian dan kebutuhan dapur yang harus dipenuhi," imbuhnya. 

Bukan hanya Niko yang mengeluhkan hal tersebut, Martinus warga  dmDesa Air Besar juga mengatakan hal serupa.

“Harga barang kebutuhan pokok naik sedangkan harga Kalau cangkau yang ngambil dihargai Rp 700-800 per kilogram,” paparnya. 

Martinus menuturkan untuk saat ini TBS bagus tidaknya di hargai berbeda.

"TBS yang bagus (TBS A) di hargai Rp 800 rupiah sedangkan TBS kulitas rendah (TBS B) di hargai  Rp 700 rupiah," tambahnya. 

Baca: Edi Kamtono Bersimpuh di Hadapan Sang Ibunda Sebelum Dilantik jadi Wali Kota Pontianak

Dampak keresahan ini tidak hanya dialami oleh orang yang mempunyai lahan kebun sendiri seperti Niko dan Martinus, Namun dirasakan juga oleh para pekerja lahan orang lain atau perusahaan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved