Suami Kurang Ulet Bekerja, Begini Cara Menghadapinya
Banyak yang bilang, lima tahun pertama menikah adalah masa-masa sulit dimana kita baru benar-benar mengenai pasangan kita.
Penulis: Rizki Fadriani | Editor: Madrosid
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Bella
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Banyak yang bilang, lima tahun pertama menikah adalah masa-masa sulit dimana kita baru benar-benar mengenai pasangan kita.
Mengenal, tidak hanya tahu tentang apa yang dia suka dan tidak suka, tapi juga mengenai kebiasaan baik dan buruk serta karakter pasangan.
Termasuk bagaimana motivasi dan keuletannya dalam bekerja, kemauannya dalam meraih cita-cita dan banyak hal lagi yang mungkin baru akan benar-benar kita tahu ketika sudah menikah.
Baca: Konsultasi Publik Libatkan Berbagai Stakeholder, Bahas Kelapa Sawit Berkelanjutan
Baca: Banyak Publik Penasaran, Arie Untung Tercyduk Laporkan Suami Artis ke Polisi
Namun, meskipun beberapa akan membuat kamu terkejut dan kecewa, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, asal kamu juga punya motivasi yang tinggi untuk menyelesaikannya.
Yuk, simak ulasan dari motivator karir dr Chairul Fuad untuk masalah yang dihadapi penanya minggu ini.
Pertanyaan :
Saya dan suami baru menikah, belum genap satu tahun. Saya baru mengetahui jika suami saya kurang ulet dalam bekerja, saya perhatikan di keluarganya juga seperti itu.
Apakah memang keluarga, khususnya orangtua mempengaruhi keuletan seseorang dalam bekerja dan meraih karirnya?
Kalau iya, apakah hal itu masih bisa dirubah, misalnya dalam kasus ini, suami saya, apakah bisa nantinya dia menjadi orang yang giat bekerja dan berusaha mengejar karir?
Bagaimana caranya? Sebagai istri, jika bisa, apa yang harus saya lakukan untuk menumbuhkan hal itu? Terima kasih sebelumnya.
Dina (27), Pontianak
Jawaban
Selamat pagi, semangat pagi
Apa yang Anda ungkapkan sangat menarik, terutama tentang ketidaktahuan Anda tentang kondisi suami Anda yang ternyata (menurut Anda) adalah orang yang kurang ulet dalam bekerja.
(akan lebih baik kondisi ini diketahui sejak belum menikah biar dapat dijadikan dasar membuat komitmen ke depannya).
Mengenai pertanyaan Anda tentang pengaruh atau pola asuh keluarga, hal itu sudah barang tentang mewarnai kepribadian seorang anak. Sebagai contoh : Jika seorang anak dibesarkan dalam keluarga yang serba ada dan serba disiapkan atau dilayani, akan berpengaruh kepada tingkat kreatifitas anak.
Anak akan memiliki sifat ketergantungan yang tinggi, sehingga berakibat kepada kurangnya inisiatif dalam mencapai sesuatu. Muncullah istilah “anak mama”.
Namun kalau diimbangi dengan motivasi dan penyadaran yang kuat dari orang tua, bisa saja hal itu tidak terjadi.