Masjid Sabilul Muhtadin Mempawah Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Ustadz Nurhasan berpesan kepada hadirin agar menjaga persatuan, yang itu ditekankan oleh Rasulullah semasa hidupnya

Penulis: Dhita Mutiasari | Editor: Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ ISTIMEWA
Ustadz Nurhasan Abdurrahman sedang menyampaikan ceramah dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di Masjid Sabilul Muhtadin Mempawah, Minggu malam (25/11/2018). 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Masjid Sabilul Muhtadin Komplek BTN Korpri dan Nusa Permai Kelurahan Tengah Kecamatan Mempawah Hilir (belakang Kantor Bupati Mempawah) menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., Minggu malam (25/11/2018).

Bertindak sebagai penceramah pada acara tersebut adalah Ustadz Nurhasan Abdurrahman Alhafidz, SHI., ME., pengasuh Pondok Pesantren Ihyausunan Li Tahfidzil Qur'an Garut Jawa Barat.

Baca: Terbentur Aturan, Sekda Mempawah Jelaskan Pemda Masih Tunggu Kebijakan Pusat Terkait Guru Honorer

Baca: Kesejahteraan Guru Honorer Kurang, Hamza:  PGRI Berjuang di Pusat dan Daerah

Sebelum Peringatan Maulid Nabi dimulai, terlebih dahulu dilakukan shalat Isya’ berjamaah yang diimami oleh Ustadz Nurhasan dengan suaranya yang merdu.

Yang berbeda dari Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) kali ini, karena pembawa acaranya terdiri dari tiga anak dengan menggunakan bahasa Arab, Inggris dan Indonesia.

Setelah dibuka dengan bacaan basmalah, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Alquran yang dilantunkan oleh Ustadz Usman Husain, staf pengajar Pondok Pesantren Al-Adabiy Sungai Bakau Besar Laut.

Acara berikutnya sambutan Ketua Umum Pengurus Masjid Sabilul Muhtadin, Agus Waluyo. “Kami mengucapkan terima kasih atas kerja semua pihak yang telah mendukung terlaksananya Peringatan Maulid, khususnya kepada Ustadz Nurhasan yang memenuhi permohonan kami untuk menjadi penceramah pada malam hari ini,” ujarnya.

Anak-anak Masjid Sabilul Muhtadin yang masih duduk di bangku SD turut menyemarakkan Peringatan Maulid dengan menampilkan shalawat “Habibi Ya Muhammad” dan “Assalamu’alaika Ya Rasulallah”.

Tak ketinggalan, Ibu-ibu jamaah Majelis Taklim BTN Korpri dan Nusa Permai juga membacakan shalawat sebagaimana termuat dalam Kitab Albarzanji, yang menambah suasana keharuan.

Dalam ceramahnya, Ustadz Nurhasan menyampaikan keluhuran akhlak Nabi Muhammad SAW., yang semestinya diteladani oleh umatnya.

Perilaku luhur Rasulullah, sambungnya, tidak hanya diakui oleh istri, keluarga dan sahabat-sahabatnya, tetapi juga diakui oleh musuh-musuhnya, sampai musuh-musuhnya merindukan untuk selalu bertemu dan menyaksikan keluhuran akhlak Rasulullah.

Lebih lanjut, Ustadz Nurhasan berpesan kepada hadirin agar menjaga persatuan, yang itu ditekankan oleh Rasulullah semasa hidupnya.

Karena itu, umat Islam harus bersikap dan berperilaku yang sejalan dengan semangat persatuan. Antara lain dengan melestarikan musyawarah.

Rasulullah selalu bermusyawarah dengan para sahabat setiap kali mengambil keputusan.

Padahal Rasulullah sebenarnya bisa saja memutuskan sendiri segala sesuatunya dan sudah pasti akan ditaati oleh para sahabat.

Namun tetap saja Rasulullah mengajak para sahabat untuk bermusyawarah.

“Sekarang ini musyawarah mulai ditinggalkan. Padahal, sebagus apapun kegiatan atau pekerjaan, walaupun dalam organisasi kecil, kalau tidak dimusyawarahkan dengan banyak orang, akan menimbulkan prasangka, curiga, suudzon atau negative thinking. Dan itu bisa merusak persatuan,” tegasnya.

Ditambahkannya, agar umat Islam menghindari masalah-masalah khilafiyah atau perbedaan pendapat dalam urusan agama.

Karena hal itu sering kali membelah persatuan umat.

“Tidak saatnya lagi meributkan masalah-masalah khilafiyah, seperti sholat shubuh pakai qunut atau tidak. Sebab yang membaca qunut punya dasar hukum, yang tidak membaca qunut juga punya dasar hukum. Juga tak perlu meributkan apakah sholat Tarawih 8 rakaat atau 20 rakaat. Masing-masing ada dasar hukumnya. Maka, jangan saling mencela dan menyalahkan,” tuturnya.

Masih terkait dengan persatuan, Ustadz Nurhasan mengingatkan jamaah agar bersikap cerdas dalam menghadapi informasi yang beredar di media sosial, karena setiap orang bisa memproduksi informasi sendiri sesuai kepentingannya, bahkan banyak yang penulisnya tidak jelas sehingga tidak dapat dimintai pertanggungjawaban.

“Jangan begitu saja percaya dengan tulisan-tulisan yang bertebaran di grup-grup WhatsApp. Disaring dulu, dicari kebenarannya. Jangan asal diteruskan kepada orang lain. Jika yang diteruskan itu ternyata tidak benar, berarti telah menyebarkan fitnah, menyebarkan kebohongan, dan itu bisa menjerumuskan kepada perpecahan,” imbuh Ustadz Nurhasan yang baru-baru ini ditugaskan sebagai hakim Pengadilan Agama Sungai Raya di Kabupaten Kubu Raya.

Di bagian akhir ceramahnya, Ustadz Nurhasan memimpin doa untuk kemaslahatan jamaah Masjid Sabilul Muhtadin, untuk kebaikan umat Islam di manapun berada, untuk kesejahteraan dan kemakmuran Kabupaten Mempawah dan Negara Indonesia pada umumnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved