Pemicu Utama Harga Emas Turun, Dari Bursa Saham Hingga Kebijakan Moneter
Penurunan harga emas pekan ini karena bursa saham mulai stabil ditambah pengumuman kebijakan moneter Bank Sentral di AS.
Selain itu, pemburuan emas akan tertuju pada anggaran Italia yang menjadi isu.
“Kalau dilihat anggaran Italia ditolak Uni Eropa dan diminta untuk membuat proposal hingga 30 November nanti. Nah, pasar akan memperhatikan di tengah pergerakan mata uang eropa ini, sehingga tertuju memburu emas,” sebut Deddy.
Permintaan emas juga akan meningkat pada akhir tahun ini.
Secara siklusnya, harga emas selalu naik pada saat akhir tahun, hal ini karena dipicu perayaan tahun baru imlek.
Deddy pun memproyeksi dalam sepekan harga emas akan berada di rentang US$ 1.207 per ons troi sampai US$ 1.220 per ons troi.
Sementara akhir tahun berkisar US$ 1.200 per ons troi sampai US$ 1.245 per ons troi.
“Rekomendasi sepekan dan akhir tahun layak beli selama harga emas spot berada di rentang US$ 1.200-an per ons troi," ungkapnya.
Secara teknikal Deddy menganalisis harga emas berada di bawah moving average (MA) MA 50, MA 100, dan MA 200 dan mengindikasikan harga berpotensi lemah.
Sementara stochastic berada di area 58 yang mengindikasikan penguatan harga.
Indikator RSI di level 44 menunjukkan potensi pelemahan harga.
Sebaliknya MACD berada di area positif dan harga cenderung bisa naik. Secara keseluruhan, harga emas hingga akhir tahun bisa naik.
Senada dengan Deddy, Putu juga memproyeksi harga emas cenderung naik.
Pekan depan, Putu memperkirakan harga emas spot akan berada di rentang US$ 1.202 per ons troi hingga US$ 1.233 per ons troi.
“Rekomendasinya beli selama harga emas tidak menembus harga di bawah US$ 1.200 per ons troi,” tutupnya.(*)
Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Merosot, harga emas masih bertahan di atas US$ 1.200
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/ilustrasi-emas.jpg)