Citizen Reporter

PMII Kalbar Gelar FGD Penguatan Demokrasi Bermartabat

maka dari itu kita trenkan suatu kebaikan jangan malah suatu yang tidak baik dijadikan tren.

PMII Kalbar Gelar FGD Penguatan Demokrasi Bermartabat
ISTIMEWA
Foto bersama 

Citizen Reporter
Sekertaris kopri PKC PMII Kalbar, Rika Artika 

TRIBUNPONTIANA.CO.ID, PONTIANAK - Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kalimantan Barat (PKC PMII Kalbar) menggelar Focus Group Discussion (FGD)  dengan tema, "Penguatan Demokrasi Bermartabat di Kalbar di Hotel Merpati Pontianak, Jumat (24/8/2018)

Muammar Kadafi dalam sambutannya mengatakan,"Kapolda Kalbar menetapkan bahwasanya Kalbar adalah nomor 1 rawan konflik, ternyata anggapan itu mentah karena masyarakat Kalbar sudah cerdas terbukti dengan damainya pilkada kemaren. Dan saya sangat tidak setuju dengan gerakan-gerakan tagar #2019gantipresiden maupun #2019tetapjokowi karena itu menimbulkan perpecahan antar masyarakat", ungkapnya.

"Negara kita ini adalah negara yg demokratis, oleh sebab itu kami mengajak semua masyarakat untuk menjaga kedamaian jangan sampai gara-gara gerakan kecil tersebut Kalbar ini menjadi tidak aman", tutur Kadafi sekaligus membuka acara FGD tersebut.

Baca: BREAKING NEWS - Juned Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Durian, Keluarga Syok

Sementara dalam Stadium General Narasumber pertama Prof.Dr.Garuda Wiko, SH, M.Si menyampaikan bahwa, "Bintang pemandu yang menjadi dasar negara yaitu 5 sila Pancasila. Bahwa dari sabang sampai marauke yang menjadi hal penting yaitu kegotong royongan.

Jiwa nilai kegotong royongan itu yang harus diutamakan, kita bekerja sama-sama untuk mencapai tujuan sehingga menjadi modal sosial bukan malah perpecahan. Modal sosial tersebutlah yang akan memembimbing cara berfikir dan cara bertingkah kita untuk mengajak semuanya supaya bersatu bukan meninggalkan", papar Akademisi Universitas Tanjungpura tersebut.

"Jangan lupakan bintang pandu kita kalau ingin menguatkan demokrasi yang bermartabat di Kalbar dan hal yang paling menghawatirkan apabila masyarakat menghilangkan identitas bangsa",imbuhnya.

Baca: Edy Yacoub: Emak-emak Harus Cerdas di Era Digital 

Berbeda dengan Dr.Zulkifli Abdillah,MA yang mengaitkan Penguatan Demokrasi dari sisi Media sosial.

Ia katakan bahwa Trending bisa mengalahkan suatu kebenaran, maka dari itu kita trenkan suatu kebaikan jangan malah suatu yang tidak baik dijadikan tren.

"Kebanyakan trending yang jelek di trenkan dan celakanya malah dianggap masyarakat adalah sesuatu yang baik padahal itu jelas-jelas tidak baik. Oleh sebab itu kita harus menjadi bintang penerang ditengah kegelapan penebar kebencian dan intoleransi terutama dalam bermedia sosial",tegas Wakil Sekretaris PWNU KALBAR.

"Jangan sampai gara-gara tagar tersebut kita menjadi kelompok-kelompok yang terpecah. Pemilihan Presiden 5 tahun sekali, tetapi persahabatan sepanjang hidup kita. Jangan sampai putus persahabatan dan persaudaraan hanya gara-gara momentum 5 tahun sekali", tutup Zulkifli.

Dalam kesempatan yang sama Pendeta Ir.Iwan Luwuk mengatakan bahwa tema yang diangkat oleh PKC PMII Kalbar sangat menggetarkan sanubari karena berbicara tentang Penguatan Demokrasi yang bermartabat.

"Demokrasi yang bermartabat adalah demokrasi yang selalu dapat menghargai nilai-nilai kebersamaan, keberagaman, tidak menjadi sombong, angkuh atau arogan".

Ia juga mengatakan,"Lemahnya demokrasi bermartabat karena kita belum memiliki kekuatan untuk menata dan menjalankan demokrasi yang sebenar nya".

Penulis: Syahroni
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved