Pilgub Kalbar
Menunggu Hasil Pilgub Kalbar, Ini Imbauan Ketua Walubi Kalbar
Pandita Edi Tansuri mengatakan dalam kehidupan semia manusia saling membutuhkan satu sama lain dan tidak bisa hidup sendiri...
Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Rizky Zulham
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Ketua Wali Umat Budha Indonesia (WALUBI) Kalbar Periode 2018-2023, Pandita Edi Tansuri mengatakan dalam kehidupan semia manusia saling membutuhkan satu sama lain dan tidak bisa hidup sendiri.
“Kita membutuhkan orang lain. Hidup kita ibarat lima jari. Lima jari ini artinya saling membutuhkan. Kalau salah satu kita buang maka kita akan merasa kesakitan. Semua orang adalah saudara,” ungkapnya saat diwawancarai Tribun Pontianak, Minggu (1/7/2018) malam.
Ia menyadari bahwa tantangan saat ini bagi rakyat Indonesia adalah menjaga keharmonisan untuk membangun bangsa dan masyarakat yang hidup dalam kesejahteraan.
Baca: Diduga Keracunan, 9 Warga Desa Sekabuk Dirawat di IGD RSUD dr Rubini
“Menjaga kerukunan dan keharmonisan itu tidak gampang. Maka dari itu, saya imbau kita bisa menahan diri, saling menghormati, menghargai dan memuliakan. Nantinya, kita harus menerima apapun hasil keputusan Pilkada dari KPU dengan lapang dada,” pintanya.
Pandita Edi meminta jangan sampai hanya karena masalah Pilkada, sesama anak bangsa jadi saling memusuhi, bertikai dan menjatuhkan. Saling menjelekkan adalah suatu hak tidak baik. Sebab, prinsip kehidupan manusia adalah bagaimana bersama-sama bisa jaga keutuhan.
“Selama ini, kita sudah menjalankan begitu bagus. Jangan cuma gara-gara Pilkada, kita sampai bertikai dan bermusuhan. Itu kan tidak bagus,” katanya.
Ke depan, ia berharap bagaimana masing-masing umat beragama meningkatkan nilai-nilai kemanusiaanan lantaran kita hidup berdasarkan landasan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
“Jangan sampai tidak menjadikan itu patokan sebagai nilai luhur. Pancasila dan UUD 1945 dirumuskan oleh pendiri bangsa sekaligus para pemimpin terdahulu. Jangan kita hancurkan,” imbuhnya.
Semua masyarakat Kalbar harus bisa menahan diri dan introspeksi diri. Tugas ke depan adalah membangun kebhinekaan kendati semua hidup berbeda-beda baik suku, agama, ras dan golongan. Namun, perlu disadari bahwa semua hidup dalam Negara Kesatuan Republiik Indonesia (NKRI).
“Kalau kita ribut, ini bukan hanya mempengaruhi Kalbar, tapi juga Indonesia. Kalau saling bertikai akan merusak keutuhan NKRI. Semua tokoh agama harus mengimbau umat masing-masing agar menahan diri. Jangan sampai memperkeruh suasana kondusif yang sudah dibangun puluhan tahun. Jangan gara-gara Pilkada, kita sampai gontok-gontokan atau bermusuhan. Pilkada memilih pemimpin semua, bukan pemimpin agama atau suku. Kita ingin memilih pemimpin yang bisa bangun bangsa,” tandasnya.