Kualitas Air Sungai Kalbar Menurun, Ini Kata Pemprov Kalbar

Adi Yani mengatakan lambat laun kualitas air Sungai kebanggaan masyarakat Kalbar itu alami penurunan lantaran ditenggarai beberapa hal.

Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Dhita Mutiasari
ISTIMEWA
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Kualitas air sungai sebagai sumber air bersih bagi kehidupan masyarakat dinilai mengalami penurunan dari hari ke hari di Kalimantan Barat.

Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) Provinsi Kalimantan Barat menegaskan berdasarkan pemantauan kualitas air sungai yang dilakukan secara rutin, kualitas air sungai saat ini berbeda dengan kualitas air sungai beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun lalu.

Baca: Seorang Wanita Ditemukan Tewas Gantung Diri di Dalam Lanting

Baca: Mulai Distribusikan Logistik, Ini Paparan KPU Mempawah

Baca: Polisi Ajak Penyelenggaraan Pemilukada Jaga Netralitas

“Kalau dilihat sampai saat ini, memang tren kualitas air sungai cenderung menurun. Tentunya pemantauan kualitas air sungai sudah dilakukan secara rutin bersama instansi terkait lainnya,” ungkap Kepala Dinas Perkim LH Provinsi Kalbar Adi Yani, Minggu (24/6/2018).

Sungai Kapuas, misalnya. Adi Yani mengatakan lambat laun kualitas air Sungai kebanggaan masyarakat Kalbar itu alami penurunan lantaran ditenggarai beberapa hal.

“Selama ini di Kalbar ini dari zaman nenek moyang kita selain dari air hujan, masyarakat juga menggunakan air sungai sebagai sumber air bersih. Tapi, saat ini kita rasakan kualitas airnya mengkhawatirkan dengan maraknya illegal logging dan maraknya ilegal mining,” terangnya.

Satu contoh masih dijumpai aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Aktivitas amalgam emas dengan air raksa, kata Adi Yani, akan menghasilkan uap-uap yang nantinya akan berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Emas kalau diamalgamkan dengan air raksa maka akan menguap. Menguap kemudian jadi awan. Lalu awan terbawa angin dari satu wilayah ke wilayah lain,” katanya.

Ia kembali mencontohkan misalnya awan yang terbentuk di Kabupaten Sintang bisa saja bergerak ke kabupaten/kota lain di Kalbar sebelum terjadi hujan.

“Mungkin saja awan yang membawa butiran hujan itu akan turun di Pontianak. Air itu jadi air masam. Itu bisa terbukti, lihat saja cat-cat rumah yang mudah pudar kena air hujan yang turun. Kemudian, air hujan yang kita minum terkadang merusak gigi. Namun, itu perlu penelitian-penelitian lebih serius dari dinas yang punya kewajiban untuk itu,” jelasnya.

Kondisi penurunan kualitas air seperti itu tentunya jadi perhatian serius semua pihak. Menurut dia, problem ini tidak hanya jadi tanggug jawab pemerintah semata.

“Harusnya ada juga tanggungjawab dari private sector. Misalnya perkebunan sawit yang mengeluarkan limbah Crude Palm Oil (CPO), itu juga harus memantau. Data-data pemantauan dilihat, apakah ada pengaruh signifikan tidak limbah yang dihasilkan dengan tingkat pencemaran air di sekitarnya,” pintanya.

Ia menimpali saat ini pihaknya sedang membuat Peraturan Daerah (Perda) per segmen yang nantinya akan mengatur agar kualitas air bisa sesuai dengan peruntukannya.

“Perda per segmen sedang dibuat untuk mengaturnya. Jadi, agar bagaimana agar kualitas air sesuai dengan standar baku mutu air yang ada. Sekarang yang diperlukan adalah bagaimana mengantisipasi kondisi penurunan kualitas air demi kepentingan masyarakat,” tandasnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pontianak dr Andy Jap mengakui rata-rata air sungai di Kalbar mengandung merkuri dengan nilai melebihi ambang batas kesehatan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved