Berbagi Informasi Autoimun dengan Para Dokter, Prodia Gelar Autoimmune Wellness

Jumlah dokter ahli penyakit autoimun di Indonesia belum banyak, sehingga seringkali ketika dirujuk sudah parah karena tidak dikenali sejak dini.

Editor: Jamadin
ISTIMEWA
Prodia sebagai laboratorium klinik yang menjadi “centre of excellence” bagi para mitra kerja, salah satunya para dokter di Indonesia, mengadakan sharing informasi di Hotel Mercure, Minggu (22/4) 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -  Autoimun merupakan penyakit yang diakibatkan adanya gangguan sistem imun yang ditandai dengan reaktivitasi sistem imun baik sel T maupun sel B (autoantibodi) melawan sel tubuh sendiri (autoantigen).

Penyakit autoimun yang sering ditemukan seperti Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang umum dikenal dengan penyakit lupus dengan angka kejadian LSE di Indonesia sebesar 0,5% dari total populasi penduduk Indonesia.

Penyakit autoimun belum bisa dipastikan penyebabnya dan gejalanya pun tidak khusus akibatnya penyakit autoimun ini tidak mudah dikenali sehingga memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosisnya.

Jumlah dokter ahli penyakit autoimun di Indonesia belum banyak, sehingga seringkali ketika dirujuk sudah parah karena tidak dikenali sejak dini.

Prodia sebagai laboratorium klinik yang menjadi “centre of excellence” bagi para mitra kerja, salah satunya para dokter di Indonesia, mengadakan sharing informasi di Hotel Mercure, Minggu (22/4)
Prodia sebagai laboratorium klinik yang menjadi “centre of excellence” bagi para mitra kerja, salah satunya para dokter di Indonesia, mengadakan sharing informasi di Hotel Mercure, Minggu (22/4) 

Melihat kejadian ini, Prodia sebagai laboratorium klinik yang menjadi “centre of excellence” bagi para mitra kerja, salah satunya para dokter di Indonesia, mengadakan sharing informasi dalam bentuk seminar nasional yang akan diselenggarakan di 18 kota besar di Indonesia yang mengangkat penyakit autoimun sebagai tema besarnya.

Seminar nasional mengusung tema Good Doctor for Better Autoimmune Treatments. Dengan adanya seminar nasional bersama para dokter ini, diharapkan para dokter mendapatkan informasi lebih lengkap seputar penyakit, dalam hal ini adalah autoimun. Sehingga dapat mengenali penyakit autoimmune sejak dini .

Prodia sebagai laboratorium klinik yang menjadi “centre of excellence” bagi para mitra kerja, salah satunya para dokter di Indonesia, mengadakan sharing informasi di Hotel Mercure, Minggu (22/4)
Prodia sebagai laboratorium klinik yang menjadi “centre of excellence” bagi para mitra kerja, salah satunya para dokter di Indonesia, mengadakan sharing informasi di Hotel Mercure, Minggu (22/4).

Seminar nasional ini berlangsung di Hotel Mercure Pontianak dengan menghadirkan dr. Nanang Sukmana, SpPD-KAI dan dr. Yustar Mulyadi, Sp.PD-KGEH sebagai pembicara yang akan memaparkan patofisiologi, jenis-jenis autoimun, faktor risiko, diagnosis pencegahan dan pengelolaan (termasuk nutrisi); serta Product Specialist PT Prodia Widyahusada Tbk Siska Damayanti, M.Si. yang akan memaparkan seputar peran biomarker dalam penegakan diagnosis autoimun serta pemeriksaan pendukung.

dr. Nanang mengatakan, penting bagi kita untuk meng-update informasi terkait penyakit autoimun kepada rekan-rekan dokter, agar para dokter dapat melakukan tindakan medis yang tepat bagi pasien yang bergejala.

“Penelitian terkait penyakit autoimun memang jarang, karena jenis penyakit autoimun sendiri ada 80 jenis. Oleh karena itu sangat penting bagi para dokter untuk mendapatkan update informasi, agar para dokter dapat melakukan tindakan medis yang tepat bagi pasien yang bergejala maupun yang sudah mengalami autoimun.” jelas dr. Nanang.

Prodia sebagai laboratorium klinik yang menjadi “centre of excellence” bagi para mitra kerja, salah satunya para dokter di Indonesia, mengadakan sharing informasi di Hotel Mercure, Minggu (22/4)
Prodia sebagai laboratorium klinik yang menjadi “centre of excellence” bagi para mitra kerja, salah satunya para dokter di Indonesia, mengadakan sharing informasi di Hotel Mercure, Minggu (22/4).

Selaras dengan pernyataan dr. Nanang, dr. Yustar Mulyadi juga mengungkapkan penting bagi para dokter untuk mendapatkan informasi terbaru terhadap suatu penyakit, khususnya autoimun ini, karena angka kejadiannya cukup mengkhawatirkan. Belum lagi kebanyakan dialami para wanita.

“Angka kejadian penyakit autoimun cukup mengkhawatirkan, apalagi kejadiannya lebih tinggi dialami oleh wanita dibandingkan pria. Oleh karena itu penting sekali bagi para dokter untuk mengetahui lebih banyak informasi terkait penyakit autoimun ini.” tuturnya.

“Autoimun memang paling banyak terjadi karena genetik, tetapi saat ini telah ada penelitian yang menyatakan bahwa defisiensi atau kekurangan kadar vitamin D dalam tubuh dapat menjadi salah satu faktor risiko seseorang mengalami penyakit autoimun. Karena setelah diteliti ke mereka yang mengalami penyakit autoimun ditemukan nilai kadar vitamin D-nya sangat kecil. Kita juga perlu berhati-hati dengan ini dan para dokter perlu tahu,” tambah dr. Nanang.

Di Indonesia prevalensi defisiensi vitamin D pada wanita berusia 45-55 tahun adalah sekitar 50%. Penelitian di Indonesia dan Malaysia menemukan defisiensi vitamin D sebesar 63% terjadi pada wanita usia 18-40 tahun. Sedangkan penelitian pada anak 1-12,9 tahun, ditemukan 45% anak mengalami insufisiensi vitamin D.

Siska Damayanti, M.Si. mengatakan Prodia menyediakan pemeriksaan-pemeriksaan lab yang dapat menunjang diagnosis para dokter terhadap penyakit autoimun ini.

“Prodia menyediakan pemeriksaan ANA IF, ANA Profile, ANTI dsDNA NcX, ProALD, AMA M2, yang dapat dimanfaatkan para dokter untuk menunjang diagnosis penyakit autoimun.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved