Tjhai Chui Mie Lakukan Sembayang Kubur, Begini Ia Memaknainya
Menurut Tjhai Chui Mie, dengan menghormati orangtua dan para luluhur berarti telah menghormati diri sendiri...
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Dhita Mutiasari
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Dalam kebudayaan Tionghoa, ada dua kali moment sembahyang yang ditujukan untuk menghormati dan mengungkapkan pernyataan bakti kepada leluhur, orangtua maupun kerabat keluarga yang telah meninggal, yakni sembahyang bulan 3 yang dikenal Cheng Beng, dan sembahyang di bulan 7 yang dikenal Chau Tu atau sembahyang ulambhana yang ditujukan pada arwah terlantar.
Bakti kepada orangtua dan leluhur menjadi sesuatu yang sangat dipegang teguh oleh warga Tionghoa dimanapun berada, termasuk Kota Singkawang.
Baca: Polres Singkawang Giatkan Cipta Kondisi Antisipasi Masuknya Barang Illegal
Hal tersebut juga dipegang teguh oleh Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie yang melaksanakan sembahyang Cheng Beng ke makam leluhur dan almarhum kedua orangtuanya di komplek pemakaman Tionghoa di Dusun Padang Pasir, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Minggu (1/4/2018).
Menurut Tjhai Chui Mie, dengan menghormati orangtua dan para luluhur berarti telah menghormati diri sendiri, karena itu dirinya selalu melaksanakan moment sembahyang Cheng Beng dengan penuh khusyuk dan khidmat.
Baca: Pj Gubernur Kalbar Akui Perlu Komitmen Bersama Atasi Stunting
Bagi Tjhai Chui Mie, moment sembahyang Cheng Beng bukan hanya tradisi ritual tahunan, tetapi juga dimanfaatkan untuk bertemu dengan sanak saudara dan kerabat keluarga yang berada di perantauan.
Cheng Beng selain sebagai wujud pernyataan bakti kepada orangtua dan leluhur, juga menjadi sarana mempererat persaudaraan antar sesama anggota keluarga, sesama famili dan juga sesama teman sekampung, kegembiraan berkumpul yang jarang terjadi karena kesibukan tugas dan kegiatan masing-masing, dimanfaatkan pada saat sembahyang Cheng Beng ini.
Jadi Cheng Beng merupakan kegiatan positip yang selain mendekatkan diri secara vertikal antara kita dan leluhur maupun Tuhan Yang Maha Kuasa, juga mendekatkan hubungan horizontal sesama manusia yang harmonis antara sesama keluarga, famili dan sesama teman.
"Untuk itu, kesempatan kumpul keluarga pada moment sembahyang Cheng Beng ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sehingga tradisi budaya ini, dapat terus tumbuh dan berkembang sepanjang masa,” katanya.
Ia mengatakan, Cheng Beng merupakan moment sembahyang wajib bagi masyarakat Tionghoa, khususnya umat Buddha, Tao dan Konghucu.
Oleh karenanya, dirinya bersama seluruh anggota keluarga selalu berkumpul di makam kedua orangtua dan leluhur, untuk menyampaikan pernyataan hormat dan bakti dengan memberikan sesaji makanan, menyalakan lilin, dan dupa, serta membakarkan kertas sembahyang.
Ada cara yang sangat baik untuk mewujudkan rasa bakti kepada orangtua dan leluhur, yaitu dengan melakukan perbuatan baik dan melimpahkan jasa kebajikan.
Karena jasa dan kebajikan kedua orangtua dan leluhur begitu besar, untuk itu kita harus senantiasa membalas jasa-jasa mereka setiap saat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/cheng-beng_20180401_205011.jpg)