Dua Ikan Kaleng Merek Ini Banyak Diminati Konsumen di Sekadau
Namun sayang, terkait berita tersebut, banyak konsumen atau masyarakat, bahkan pedagang yang belum mengetahui.
Penulis: Rivaldi Ade Musliadi | Editor: Dhita Mutiasari
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Setelah melakukan sampling ke beberapa produk ikan makarel, BPOM resmi menyatakan 27 merek baik impor maupun dalam negeri mengandung parasit cacing.
Bahkan dari beberapa merek tersebut sangat akrab dengan konsumen dan paling banyak dibeli.
Namun sayang, terkait berita tersebut, banyak konsumen atau masyarakat, bahkan pedagang yang belum mengetahui.
Baca: Petugas Temukan Makarel Mengandung Cacing Parasit di Putussibau
Di Kabupaten Sekadau sendiri, berdasarkan pantauan Tribun di lapangan, memang beberapa produk ikan kaleng tersebut masih dipajang oleh pedagang.
Satu diantaranya pedagang di kawasan pasar Sekadau Jl. Kapuas Sekadau Hilir yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, dirinya mengetahui tentang berita ikan kaleng yang mengandung parasit cacing.
Baca: Nekad Curi Hp di Rental PS, Pria di Putussibau Ini Langsung Diringkus
Namun, ia tahu hanya merek-merek kecil saja, tidak pada merek yang seperti ia biasa jual.
"Tahu saya (ikan kaleng mengandung parasit cacing), tapi yang saya tahu merek-merek kecil. Kalau merek ini (sembari menunjuk ikan kaleng merek Botan dan ABC) saya tidak tahu kalau juga kena (mengandung parasit cacing)," ujarnya ditemui Tribun, Kamis (29/3).
Ia mengatakan, selama ini hanya dua merek yang sering ia jual, yakni sraden merek ABC dan Botan. Karena, kata dia, dua merek tersebut memang sangat banyak diminati oleh pembeli.
"Paling laku memang dua merek ini. Pernah juga jual merek lain tapi kurang laku," imbuhnya.
Apalagi, lanjut dia, merek Botan dari sejak lama sudah ia jual sebelum adanya ikan kaleng merek ABC. Untuk ikan kaleng Botan ukuran besar ia jual dengan harga Rp. 22 Ribu, dan merek ABC ukuran besar dengan harga Rp. 21 Ribu.
Kendati demikian, ikan kaleng yang ia jual ia dapat dari distributor di Pontianak. Biasa barang tersebut datang sebulan atau dua bulan sekali.
"Walaupun habisnya lama, tapi orang banyak memang tertarik dengan dua merek ini," katanya.
Mengetahui hal tersebut, ia pun sempat bingung harus bagaimana.
"Jadi bagaimana bang, harus saya simpan atau tetap saya pajang," tanyanya.
Ia mengaku, dari pihak terkait baik BPOM dan juga Dinas Perindustrian, Perdagangan dan UMKM Sekadau belum ada menentukan pemerintahan tentang hal tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/ikan-kaleng_20180329_170750.jpg)