LIVE FACEBOOK - Ustaz Abdul Somad Diberi Gelar Datuk Seri Ulama Setia Negara
Siapa yang tak kenal dengan nama Ustadz Abdul Somad (UAS). UAS merupakan seorang pendakwah, ulama, dan dosen
Pada 2004 ia kembali meraih beasiswa melanjutkan kuliah S2 di Institut Dar al-Hadits al-Hasaniyah, Kerajaan Maroko yang setiap tahunnya hanya menerima 20 orang pelajar dengan rincian 15 orang Maroko dan sisanya 5 orang untuk orang asing. Ia salah seorang dari lima orang asing tersebut.
Pengabdian formal Ustadz Abdul Somad tercatat sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Ia juga anggota MUI Provinsi Riau, Komisi Pengkajian dan Keorganisasian Periode 2009 – 2014. Anggota Badan Amil Zakat Provinsi Riau, Komisi Pengembangan, Periode 2009 – 2014. Sekretaris Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama Provinsi Riau, Periode 2009 – 2014. Terbaru, ia juga anggota Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (MKA LAMR).
Ustadz Abdul Somad telah menulis beberapa buku yang gegap gempita di kalangan umat Islam, di antaranya 37 Masalah Populer, 99 Pertanyaan Seputar Sholat, dan 33 Tanya Jawab Seputar Qurban. Selain karya sendiri, H. Abdul Somad, juga menerjemahkan sejumlah buku dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.
Ia melaksanakan pengajian demi pengajian sebelum dikenal oleh umat Islam Nusantara. Capaiannya luar biasa, dipahami banyak jemaah yang berada langsung di hadapannya di masjid dan majelis, tetapi juga menembus dinding masa, waktu dan tempat. Tidak hanya populer di kalangan umat Islam tetapi juga disukai non muslim.
Ia mampu menggunakan teknologi informasi dengan sebaik-baiknya di tengah kegandrungan generasi kini terhadap alam tersebut. Ia menguak wilayah pinggir dan tampil di tengah gelanggang dengan takzim.
Tausyiah Ustadz Abdul Somad disukai antara lain karena lengkap, beragam, moderat, dan kontekstual. Hal yang dilakukannya intinya adalah menjaga izzah dan ghirah Islam, kemuliaan, kehormatan, kekuatan Islam, semangat kemelayuan melalui syiar Islam, dan sebaliknya memberikan semangat keislaman melalui kemelayuan. Namanya merebak melintasi Riau dengan berbagai predikat positif.
Dalam sosok Ustadz Abdul Somad bergabung diri berbagai ulama maupun mubaligh yang ada di Indonesia; berwatak keras, bersuara lantang, ucapannya tegas dan wawasan keislamannya luas karena penguasaan sumber kitab-kitab klasiknya yang lengkap. Ini memang tidak mudah, karena memerlukan ingatan yang luar biasa.
Dalam penjelasan itu Ustadz Abdul Somad menjawab langsung, hampir tanpa jeda. Selanjutnya, posisi Ustadz Abdul Somad menjadi terang benderang bagi umat Islam dan masyarakat Melayu, bahwa ia di pihak luar dianggap sebagai titik kumpul (rallying point) umat.
Sebagai dosen, ustadz berada dalam lingkungan yang baik untuk mengembangkan wawasan. Ini terlihat dari kemampuan merujuk dan mengutip isi kitab, lengkap dengan silsilah kitab, orang, dan bahkan rantai guru-murid, dengan latar belakangnya.
Sementara itu, penjelasannya selalu mengunakan langgam Melayu. Memang enak di telinga dan nyaman di hati, apalagi jika ditingkahi dengan pantun dan syair. Hal ini karakter umum yang dimiliki oleh orang Melayu khasnya Riau.
Dalam banyak ceramahnya ia dinilai memiliki nuansa sastra, ada rima dan metafora, karena begitulah akar sastra Melayu dari Arab Parsi.
Suara Abdul Somad yang tidak hanya lantang dan fasih dalam bahasa Arab, tetapi juga merdu menjadikan tausiahnya mewujud sebagai semacam seni pertunjukan, apalagi saat ia mendendangkan syair dan zikir.
Wawasan ilmunya sampai kepada sejarah pelbagai kerajaan dan kesultanan Melayu. Ia dengan fasih mendeskripsikan bagaimana sejarah mengalir kronologis, mulai dari Bukit Siguntang, terus ke Bentan, dan Melaka. Lalu bersambung ke aliran spasial, dari Kerajaan Samudera Pasai, terus kerajaan Melayu Deli Serdang, Inderagiri, Siak Sri Inderapura hingga Dharmaseraya. Ustadz Abdul Somad paham bagaimana kebiasaan di kampung-kampung dan dusun di Riau, di ceruk sungai dan hutan simpanan.
Selain yang disebutkan di atas, Ustadz Abdul Somad memiliki selera humor yang tinggi. Ia membuat cerita panjang dengan selaan canda yang menyegarkan. Ia membuat humor tidak mesti ikut tertawa bersama jemaah. Humor seperti ini tipikal humor orang Melayu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/abdul-somad_20171125_160445.jpg)