AJI Pontianak - Hoaks Populer Adalah Isu Sosial Politik di Pilkada
Jenis hoaks paling populer adalah isu sosial-politik terkait Pilkada dan pemerintah yakni 91,80 persen.
Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Rizky Zulham
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak Reinardo Sinaga mengatakan jenis hoaks paling populer adalah isu sosial-politik terkait Pilkada dan pemerintah yakni 91,80 persen. Isu Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA) menempati urutan kedua dengan prosentase 88,60 persen.
Lantas diikuti berturut-turut dengan hoaks kesehatan prosentase 41,2 persen. Hoaks makanan-minuman sebesar 32,6 persen, hoaks penipuan keuangan 24,5 persen, ilmu pengetahuan dan teknologi 23,7 persen.
“Kemudian berita duka 18,8 persen, candaan 17,6 persen, bencana alam 10,3 persen dan hoaks lalu lintas sebesar 4 persen,” ungkapnya saat memaparkan materi saat Pelatihan Jurnalistik Anti Hoaks yang dinisiasi Komunitas Peduli Informasi (KOPI) Kalbar di Belian Room, Hotel Kapuas Dharma 1, Jalan Imam Bonjol, Minggu (18/2/2018).
Bentuk hoaks yang paling sering diterima adalah 61,10 persen melalui tulisan,37,50 persen melalui gambar dan 0,40 persen melalui video. Sedangkan saluran penyebaran berita hoaks paling banyak adalah melalu aplikasi chatting media sosial sebesar 62,80 persen.
“1,20 persen melalui radio, 3,10 persen melalui e-mail, 5 persen melalui media cetak, 8,70 persen melalui televisi dan 34,90 persen melalui situs website,” paparnya.
Edho menambahkan hoaks itu sudah ada sejak zaman Nabi Adam. Ketika mendapat infromasi atau berita, Edho meminta masyarakat untuk mencari sumber referensi terpercaya.
Berdasarkan kebutuhan analisis sentimen, meningkatnya penggunaan sosial media di masyarakat berdampak pada bertambahnya peran berbagi informasi di ruang publik yang selanjutnya menyebabkan berkembangnya opini publik.
Salah satu pemicu yang membuat Kalbar tidak aman adalah intoleransi. Semua berperan dalam memilah mana informasi yang bisa menyesatkan, mana yang tidak. Mana informasi yang bisa membuat perpecahan, mana yang tidak.
“Bukan hanya peran jurnalis atau pemerintah saja. Tapi semua elemen masyarakat,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua KOPI Kalbar M Ainul Yakin mengakui media sosial punya peran strategis. Di samping punya manfaat positif, ternyata media bisa berefek negatif jika salah penggunaan. Satu diantaranya adalah membanjirnya berita hoaks.
“Ya, di tengah perkembangan media pesat dalam era generasi Jaman Now. Dengan klik bagikan, copy, sebar dan mudah. Ini jadi tantangan, karena informasi yang kita bagikan di medsos belumtentu semuanya bermanfaat,” ungkapnya.
Melalui pelatihan jurnalistik, KOPI Kalbar ingin menyebarkan budaya bijak dalam media sosial dengan cara memilah dan memfilter informasi berkembang.
“Sehingga kita punya kontrol dan upaya menangkal hoaks secara baik. Kami juga ingin generasi jaman now lebih memahami kerja jurnalistik yang ternyata tidak singkat dan ada proses. Tidak dengan mudah men-share info yang ternyata tidak bermanfaat, apalagi hoaks,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/reinardo-sinaga_20180218_221618.jpg)