Tekan Illegal Logging Yayasan ASRI Buat Tugu Dari Senso

Untuk menekan angka pembalakan hutan atau illegal logging Yayasan ASRI yang terletak di Sukadana, Kayong Utara mempunyai cara unik.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/SYAHRONI
Direktur Eksekutif Asri, dr. Monica R. Nirmala dan Pendiri Yayasan ASRI, dr. Kinari Eve Webb yang telah memegang senso. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAYONG UTARA - Untuk menekan angka pembalakan hutan atau illegal logging Yayasan ASRI yang terletak di Sukadana, Kayong Utara mempunyai cara unik dengan membeli chainsaw atau senso dari para pekerja logging.

Direktur Eksekutif ASRI, dr. Monica R. Nirmala menjelaskan bahwa penebangan liar di Taman Nasional Gunung Palung sudah turun 86 persen. Saat ini pihaknya menghitung masih ada kisaran 150 kepala keluarga di area Taman Nasional masih melakukan logging atau penebangan terhadap pohon-pohon yang ada.

Biasanya keluarga yang masih melakukan logging ini merupakan para pekerja lama dan turun temurun. 'Ini merupakan turun temurun mereka. Mereka hanya tau kerja logging karena tak memiliki skill lainnya. Saat ini kami bekerjasama denga para logger yang tersisa tersebut jadi sebetulnya tidak ada ornag yang mau kerja kayu, karena itu kerjaan yang sangat bahaya dan meletihkan. Kami bekerjasama dengan logger yang masih ada ini, karena pada dasarnya mereka juga tak mau terus terus bekerja itu, jadi kami berkomunikasi dengan mereka sebetulnya apa yang yang bisa diperbuat mereka dan jenis kegiatan yang yang bisa dilakukan selain logging," jelas dr Monica, Minggu (4/2/2018).

Baca: Salut! Buka Cabang Klinik Asri di Melawi, Ini Yang Jadi Keinginan Dokter Asal Amerika Serikat Ini

Sebetulnya para penebang ini menurut, Monica punya banyak ide dan punya semangat bisnis yang mereka ingin kembangkan.

"Jadi program yang sedang kami kembangkan ini adalah program tukar chainsaw, sebenarnya ini program bisnis bersama antara ASRI dan para mantan penebang ini. Jadi bagi para mantan penebang yang sudah ingin meninggalkan pekerjaan itu dan kita ajak bisnis bersama," ujarnya.

Merupakan bisnis bersama maka kedua belah pihak harus berinvestasi, jadi dari pihak ASRI investasinya dalam bentuk uang dan para mantan penebang ini investasi adalah dalam bentuk sensonya.

"Jadi chainsawnya diserahkan pada ASRI sebagai bentuk komitmen mereka dan ASRI akan membayar chainsaw tersebut dengan harga Rp4 juta rupiah. Lalu ASRI menambah investasi Rp6 juta sehingga totalnya ada Rp10 juta untuk modal para mantan logger ini berwirausaha," jelasnya.

Sejauh ini sudah ada 46 senso yang dibeli ASRI. Selain itu bisnis mereka juga berjalan lancar, karena secara terus menerus dimonitor. Beberapa bisnis yang dijalankan oara mantan logger disebutnya seperti tambak ikan, bisnis ayam goreng pedaging, jualan sembako, jualan kue dan sebagainya.

"Sistemnya berbagi hasil, nanti ketika uang bagi hasil telah menutupi uang investasi awal ASRI yang sebesar Rp6 juta selesai dibayar maka sepenuhnya bisnis menjadi hak milik mereka dan investasi sebesar Rp6 juta dari ASRI juga tanpa bunga," ujarnya.

Kini senso yang dibeli ASRI dari para logger dikumpulkan di Klinik ASRI dan tampak satu raungan tersusun rapi senso tersebut. dr Monca tambahkan senso tersebut akan dibuat tugu yang bahanya semua dari senso. Tugu tersebut sebagai bukti pemberantasan illegal logging sehingga alam menjadi semakin sehat dengan banyaknya perpohonan.

Selain itu ASRI juga telah menganggarkan untuk membeli dan bekerjasama dengan para logger yang masih tersisa sesuai dengan data yang ada sekitar 150 logger lagi. Pihak ASRI akan membeli kembali senso mereka dan akan dibuatkan tugu senso juga.

Penulis: Syahroni
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved