Jones Pastikan Sanggau Bebas Difteri
Untuk Kabupaten Sanggau rata-rata 80 persen tiap tahun, itu selama lima tahun terakhir. Kalau anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap.
Penulis: Hendri Chornelius | Editor: Rizky Zulham
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Hendri Chornelius
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sanggau, dr Jones Siagian menyampaikan, di Kabupaten Sanggau belum ditemukan adanya penderita difteri dan bahkan bebas dari difteri. Karena selama lima tahun terakhir cakupan imunisasi di Sanggau relatif baik.
“Untuk Kabupaten Sanggau rata-rata 80 persen tiap tahun, itu selama lima tahun terakhir. Kalau anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap, maka kemungkinan dia akan terserang difteri kalau di daerah itu ada kasus, kemungkinannya tiga atau empat kali lebih tinggi. Apalagi kalau dikaitkan dengan status gizinya yang buruk. Sanggau sendiri belum ada, dan mudah-mudahan tidak ada,” katanya, Kamis (14/12/2017).
(Baca: Kejaksaan Negeri Sanggau Permudah Pendampingan Lewat E-TP4D )
Dikatakanya, apabila terserang difteri, khusnya anak yang telah diimunisasi, tidak terlalu berat. Karena memang imunisasi atau untuk menimbulkan kekebalan seumur hidup.
“Karena ini bakteri, tidak bisa. tidak seperti virus. Sekali imunisasi maka kebal seumur hidup. Kalau ini setiap sepuluh tahun sekali itu harus diberi lagi, termasuk kita orang dewasa,” tegasnya.
Jones menjelaskan, sekitar 20 Provinsi dengan 88 kabupaten/kota se-Indonesia saat ini telah ditemukan kasus penderita difteri. Termasuk di Kalbar, ada di beberapa kabupaten/kota.
“Kita kan mengantisipasi ini, saya harus pastikan dulu, gimana lima tahun terakhir cakupan imunisasi kita, ternyata kita relatif baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyakit yang bisa menyerang anak-anak ini disebabkan oleh bakteri dan gejala awalnya adalah batuk pilek.
“Masa inkubasinya cepat, dua sampai lima hari. Artinya sejak masuk bakteri itu, maksimal lima hari akan muncul gejala. Gejalanya antara lain, demam, ada batuk sedikit. Sudah semakin parah, biasanya di lidah atau di kerongkongan ada selaput tipis warna putih. Jika semakin berat, akan menyumbat pernapasan. Bisa fatal,” tuturnya.
Selain itu, lanjutnya, akan muncuk yang disebut bull neck (leher membengkak seperti leher sapi). Si penderita biasanya akan sesak nafas.
“Paling susahnya ada komplikasi neocarditis dengan gagal ginjal, itu komplikasinya,” ujarnya.
Gejala paling khas, kata Jones, adalah munculnya selaput putih di belakang lidah. Meskipun pada penderita tifus, lidah juga akan berwarna putih. “Tapi sampai ke depan lidah, ” tuturnya.
Karena masa inkubasinya yang cepat, Jones menegaskan, jika ditemukan kasus difteri, maka penderita harus segera diisolasi. “Karena penularannya seperti TBC. Prosesnya juga cepat,” tuturnya.
Untuk mengantisipasinya, Jones menambahkan, pihaknya sudah menginformasikanya ke puskesmas dan Poskesdes. “Tolong di pantau kondisi sekitar, kalau ada segera lapor, kemudian menyiapkan logistik. Kita akan memastikan cakupan imunisasinya, ” jelasnya.
Sementara itu, satu diantara warga Sanggau, Luciana mengaku khwatir dengan adanya bakteri Difteri. Apalagi dirinya memiliki anak yang masih berusia satu tahun lebih.
