Profile
Melirik Sosok Sejarawan Kalbar Syafaruddin Usman
Dosen ilmu jurnalistik di Fisip dan dosen Ilmu Sejarah di FKIP untan ini dikenal juga sebagai kolektor buku yang memiliki 1708 buku kuno dan langka.
Penulis: Muzammilul Abrori | Editor: Rizky Zulham
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Claudia Liberani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sering terlihat menjadi juri dalam perlombaan kebudayaan dan diundang menjadi pembicara di berbagai kegiatan sejarah, nama Syafaruddin Usman sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Pontianak.
Dosen ilmu jurnalistik di Fisip dan dosen Ilmu Sejarah di FKIP untan ini dikenal juga sebagai kolektor buku yang memiliki 1708 buku kuno dan langka.
"Saat ini koleksi buku sudah 4500an judul, ini saya koleksi sejak di bangku SD tahun 1982," ujar dosen yang mengaku mengenal buku dari almarhum ayahnya dan diajari membaca oleh ibunya.
(Baca: Pahlawan Ini Tak Pernah Muncul di Buku Sejarah, Padahal Penulis Konsep Negara Indonesia )
Kecintaannya pada buku membuatnya jadi melahap banyak bacaan, pengetahuannya tentang sejarah dan budaya pun mumpuni sehingga dia sering menjadi orang yang dituju jika ada yang ingin menanyakan sejarah maupun budaya di Kalbar.
Pembaca yang baik adalah pembaca yang menulis, begitulah sosoknya, setelah kesukaannya pada kegiatan membaca membuatnya menjadi kolektor buku, dia juga jadi penulis. Setidaknya sudah 45 buku dia tulis. Kini dia menjadi ketua harian Badan Pelestari Kejuangan 45 Kalbar. Setidaknya sudah 45 buku dia tulis.
"17 buku sudah terbit, 8 judul buku terbit di tingkat nasional," tuturnya.
Dari pengalamannya menulis, dia mengatakan yang paling berkesan adalah royalti dari menulis buku bisa untuk membeli kendaraan dan untuk menulis buku lebih banyak lagi. Mesti lahir di Landak, dia yang telah menjadi tenaga pengajar sejak tahun 1999 di sejumlah fakultas pada beberapa perguruan tinggi ini telah meninggalkan jejak yang cukup dalam di Pontianak.
"Saya menekuni kecintaan pada sejarau sejak tahun 1988, begitu juga budaya," ucap suami dari Isnawita Yahya ini.
Karena pengetahuannya tentang sejarah dan budaya sangat luas, dia jadi sering dikunjungi oleh orang-orang yang ingin mengenal Kalbar dari sisi sejarah. Ada masa-masa tertentu di mana dia harus menghadiri berbagai undangan sebagai narasumber maupun penilai.
"Bulan Oktober itu bulan di mana saya sering ke sana sini, menghadiri undangan untuk jadi narasumber, begitu pula para peneliti pasti ramai mampir ke rumah untuk menanyakan sesuatu," katanya.
Penulis Tanah Mandor Bersimbah Darah (1996) dan di Bawah Lambaian Sang Merah Putih tahun (1997) ini mengungkapkan dia tidak bisa memilih prioritas antara menjadi pendidik, budayawan maupun sejarawan.
"Baik dosen,sejarah maupun budaya sama-sama pentingnya, mengabdi untuk orang banyak," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/syafaruddin-usman_20171110_132506.jpg)