Hidup Berdampingan di Batas Negara
Warga Temajuk di Indonesia dan Teluk Melano di Malaysia Terpisah batas negara berupa jalan tanah namun masih bisa dilewati kendaraan.
Penulis: Destriadi Yunas Jumasani | Editor: Rizky Zulham
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Destriadi Yunas Jumasani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Warga Temajuk di Indonesia dan Teluk Melano di Malaysia Terpisah batas negara berupa jalan tanah namun masih bisa dilewati kendaraan.
Kedua warga negara berbeda itu hingga sekarang masih saling membutuhkan.
Kebutuhan harian seperti minyak, beras dan gula bahkan terkadang gas bagi warga Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas masih bergantung untuk membeli di Teluk Melano. Sementara sebaliknya, soal kebutuhan sayur-mayur, warga Teluk Melano akan membelinya dari warga Temajuk.
Kekerabatan warga dua belah negara ini memang bukan hanya untuk keperluan ekonomi, karena mereka sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan.
"Ada warga Temajuk yang menikah dengan warga Teluk Melano dan sebaliknya," ujar Suharmi tokoh masyarakat Desa Temajuk, Selasa,l (7/11/2017) siang.
Tanpa memerlukan paspor, keluar masuk antar negara menjadi hal yang sudah biasa. Bahkan ketika ada penyelenggaran acara di Temajuk khususnya acara musik akan banyak warga Teluk Melano yang datang untuk menonton.
"Pasti warga Melano datang. Mereka suka dengan konser musik," ujar pria yang kerap disapa Pak Mok tersebut.
Rupiah dan Ringgit menjadi pasangan serasi di perbatasan ini, karena masih dapat digunakan di kedua wilayah. “Biasanya sih satu Ringgit ditukar Rp 3500,” tutur Pak Mok.
Warga Temajuk yang berjumlah lebih dari 200 kepala keluarga ini kerap kali berbelanja kebutuhan pokok di wilayah Malaysia dengan jumlah penghuni sekitar 50 kepala keluarga.
Dari Temajuk ke negara sebelah hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit. Karena jarak yang ditempuh tak begitu jauh, yakni sekitar empat kilometer.
“Bisa lewat sana, walau ada kubang-kubangan di jalan yang masih tanah,” jelas Pak Mok.
Sebelum melintas ke wilayah Malaysia, kami harus melapor dulu dengan memberikan data kepada anggota TNI Yonif 642/Kapuas yang berjaga di pos lintas batas di Dusun Tekam Patah. “Habis ini baru kita lapor ke Pasukan Gerakan Am (PDA) Polis Diraja Malaysia, isi buku tamu lah,” ujar Pak Mok.
Usai mengisi buku absen, kami pun mulai memasuki pemukiman warga Malaysia. Bendera-bendera Malaysia beserta bendera kerajaan Sarawak. Perbedaan yang sangat mencolok dari mulai arsitektur rumah hingga penataan kota di perkampungan tersebut yang lebih tertata.
Wilayah Teluk Melano yang berjumlah penduduk sekitar 50 KK, sudah memiliki bangunan sekolah berlantai empat, lapangan bola dan memiliki akses telepon hingga listrik yang bisa dapat mudah dinikmati warga.
Kami menyempatkan diri untuk beristirahat sebentar di warung milik warga. Di warung milik warga Malaysia yang satu diantara orangtuanya adalah warga Sambas tersebut kami bertemu Sundi, pemuda 24 tahun asal Kecamatan Paloh yang memilih bekerja di Teluk Melano.
“Sudah lima tahunan saya kerja di sini," ujar Sundi yang saat itu sedang menunggu jemputan.
Sundi mengaku di Teluk Melano ia bekerja di pembangunan sarang walet yang ia akui sudah dua bulan ini pulang pergi bekerja. “Upahnya ya sekitar RM60 atau Rp180 ribu sehari," tutur Sundi.
Jarak antar Temajuk dengan tempatnya bekerja yang tidak jauh membuatnya memilih untuk makan di Temajuk agar lebih hemat. "Kalau kerja makan tak ditanggung. Jadi disaat jam istiraha, saya makan ke Temajuk," ujarnya sembari menyeruput Kopi O nya.
Sundi yang memiliki paman yang menikah dengan warga Teluk Melano juga kerap bertemu dengan warga Paloh lainnya yang bekerja di Teluk Melano.
Seperti halnya Sundi, Mulyadi (40)pekerja yang mengangkut pasir pantai ini mengaku sudah cukup lama bekerja di Teluk Melano. "Ambil pasir di pantai kita bawa ke warga Teluk Melano yang pesan," ucap pria yang tertarik juga berbagi ceritanya bersama kami.
Ia mengaku upah yang ia terima terbilang besar. “Satu kubik pasir, dapar upah sebesar RM50 atau sekitar 150 ribu. Dalam sehari satu hingga dua kubik pasir mampu saya antar ke yang pesan,” jelasnya yang tetap sibuk mengangkut pasir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/dua-mata-uang_20171112_213336.jpg)