Sejarah Panjang Penggunaan Krim Wajah, Dari Timah Putih Hingga Air Raksa

Menelusuri sejarah krim pemutih wajah, ternyata krim ini bukan penemuan baru industri kosmetik global.

Tayang:
Penulis: Muzammilul Abrori | Editor: Rizky Zulham
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Kolase
Buku Putih Warna Kulit Ras dan Kecantikan di Indonesia Transnasional 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Claudia Liberani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kulit putih telah menjadi standar kecantikan bagi kaum hawa, para akademisi pun telah membuat uraian panjang mengenai sejarah standar kecantikan ini muncul. Krim pemutih wajah membuat perempuan merasa semakin dekat dengan standar tersebut.

Di Indonesia, sebuah negara dengan beragam geografis, suku, dan budaya, pemaknaan standar kecantikan bisa saja berbeda, namun fakta menunjukkan kulit putih tetap menjadi muara dari semua upaya perempuan untuk terlihat cantik.

Krim pemutih wajah bermunculan, mulai dari produk lokal yang dapat dijangkau dengan harga murah, krim dokter dengan kandungan zat tertentu yang menyebabkan ketergantungan, hingga krim pemutih luar negeri yang ilegal.

(Baca: Bikin Ngakak! Akronim Nama Wilayah di Mempawah, Ansterdam: Antibar Seberang Dalam )

Menelusuri sejarah krim pemutih wajah, ternyata krim ini bukan penemuan baru industri kosmetik global.

Dalam buku berjudul “Putih, warna kulit, ras, dan kecantikan di Indonesia Transnasional” L Ayu Saraswati, seorang akademisi asal Indonesia yang menjadi dosen di Universitas Hawaii menjabarkan secara singkat mengenai pemakaian krim pemutih wajah.

1. Di Kekaisaran Roma
Dari penelitian pakar ras Richard Dyer, perempuan Yunani Kuno sudah mencoba usaha untuk menjadikan kulit mereka putih. Para perempuan di Kekaisaran Roma menggunakan timah putih dan ceruse (campuran timah putih dan cuka) untuk memutihkan kulit.

2. Di Inggris
Pada era Elizabeth (abad ke-16 hingga ke-17), ceruse digunakan untuk tujuan yang sama. Selain itu perempuan juga menggunakan air raksa, perasan jeruk, putih telur, susu, dan cuka. Karena timah dan air raksa adalah bahan-bahan beracun, banyak orang tewas dalam usaha memutihkan kulit.

3. Di Amerika Utara
Sejarawan Kathy Peiss mencatat, perempuan kulit putih berbagi resep pemutih kulit selama awal abad ke-19 dan menjadi target pasar krim pemutih kulit hingga abad ke-20. Orang Afro-Amerika terus menjadi sasaran produk pemutih dengan bahan kimiawi yang berbahaya, termasuk air raksa, yang baru dilarang di Amerika Serikat tahun 1974.

4. Di Asia dan Afrika
Ratu Mesir yang tersohor dengan kecantikannya, Cleopatra, mandi susu untuk memutihkan kulitnya. Sedangkan di Jepang, pada periode Heian, perempuan menggunakan tepung beras (oshiroi) dan timah putih untuk memutihkan kulit mereka. Di Cina, abad ke-13, perempuan dari golongan kaya menggunakan “perhiasan Buddha” – adonan tebal yang dioleskan pada wajah selama musim dingin dan dihapus pada musim semi.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved