Warga Desa Sumber Harapan Keluhkan Bau Limbah dan Penyakit Gatal-gatal
Terkait permasalahan perizinan dan gangguan akibat limbah, warga sudah pernah menyampaikan ke pihak perusahaan.
Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Dhita Mutiasari
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Warga Desa Sumber Harapan, Kecamatan Sambas mengeluhkan adanya bau yang diduga berasal dari limbah pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) yang ada di sekitar wilayah desanya.
Satu di antara warga, Nazarhan (35) mengungkapkan, warga di desanya mulai mengeluhkan adanya bau sejak dioperasikannya kolam limbah pembuangan dari pabrik kelapa sawit yang berada di wilayah desa mereka.
"Masalah pabrik ini bukan dampak dari limbah saja, dari masalah perizinannya juga kami pertanyakan. Bau limbah ini sudah tercium oleh warga sudah sejak setahun terakhir, karena perusahaan selesai membangun sekitar pertengahan tahun 2016. Kalau malam sekitar pukul 20.00 atau pukul 21.00 WIB, sudah tercium baunya di permukiman desa kami," ungkapnya saat dikonfirmasi, Senin (16/10/2017).
(Baca: Hebat, Sayok Kite Hydrofarm Jadi Jawara Kategori Start Up Pada SOPREMA 2017 )
Nazarhan mengatakan, perusahaan tersebut saat membangun kolam limbah pabriknya, memang tidak dengan melakukan sosialisasi dengan warga.
"Mulai dibangun sekitar tahun 2014. Selesai mereka membangun (kolam limbah) sekitar tahun 2016, saat membangun pun tidak ada sosialisasi dengan warga. Kami juga mempertanyakan masalah perizinan, kenapa membangun tanpa ada kesepakatan-kesepakatan yang harus disepakati," jelasnya.
Selain adanya bau yang diduga berasal dari kolam limbah pabrik tersebut, baru-baru ini ada pula warga yang mengeluhkan kepadanya mengalami penyakit gatal-gatal.
(Baca: Bekerja Hingga 25 Tahun, Karyawan PT PLN Akui Tak Ada Kejelasan )
"Ada kawan kemarin yang mengeluhkan ke saya, katanya ada kena gatal-gatal. Jadi selain bau limbah, ada juga warga yang sudah mengeluhkan kena gatal-gatal bahkan sampai kena kudis," terangnya.
Menurut kisahnya, Sungai Sambas Kecil mengalir di dua wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Sajad dan Kecamatan Sambas.
"Teman saya yang mengeluhkan kemarin dari desa sebelah yang berada dalam wilayah Kecamatan Sajad. Kalau kami di wilayah Kecamatan Sambas. Kalau berapa orang yang kena gatal-gatal kami belum cek berapa, cuma kemarin ada teman itu yang mengeluhkan," urainya.
Terkait permasalahan perizinan dan gangguan akibat limbah, warga sudah pernah menyampaikan ke pihak perusahaan.
"Sosialisasi yang pernah ada di kami itu tahun 2016. Yang hadir dari pihak perusahaan, warga Desa Sumber Harapan dan dinas-dinas terkait. Di situ kami tidak setuju, karena kenapa membangun dulu baru sosialisasi, kan seperti itu. Seharusnya kan sosialisasi dulu, bagaimana selanjutnya barulah membangun, baru menerbitkan perizinan, IMB dan segala macam," paparnya.
Tak berhenti di situ saja, beberapa hari terakhir, warga kembali menemui pihak perusahaan, untuk kembali membahas sejumlah permasalahan, termasuk di antaranya mempertanyakan tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/gatal-gatal_20170329_132640.jpg)