Satu Anak di Sekadau Meninggal Dunia Digigit Anjing Rabies

Kepada masyarakat juga, Aloy meminta supaya ada kesadaran untuk membantu petugas ketika anjingnya ingin divaksin.

Penulis: Rivaldi Ade Musliadi | Editor: Rizky Zulham
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIVALDI ADE MUSLIADI
Wakil Bupati Sekadau Aloysius saat menjenguk Sintia (5) bocah yang terkena gigitan anjing rabies saat di rawat di RSUD Sekadau, Kamis (12/10/2017) sore. Namun sayang, bocah tersebut akhirnya meninggal setelah mendapat perawatan intensif selama beberapa hari di RSUD Sekadau. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU - Sintia (5) bocah asal Desa Sunsong Kecamatan Sekadau Hulu akhirnya meninggal, usai dirawat intensif di RSUD Sekadau akibat terkena gigitan anjing. Sintia terlambat dilarikan ke rumah sakit setelah ia digiring dua kali sekitar dua minggu lalu.

Atas kejadian tersebut, Wakil Bupati Sekadau Aloysius menegaskan kepada semua elemen masyarakat untuk saling bekerjasama memberantas kasus rabies.

Terutama kepada masyarakat awam, Aloy meminta agar bisa kooperatif apabila ada petugas yang ingin memberi vaksin anti rabies kepada hewan peliharaannya.

Untuk itu, Aloy meminta kasus tersebut yang terakhir jangan terjadi lagi. Kepada masyarakat juga, Aloy meminta supaya ada kesadaran untuk membantu petugas ketika anjingnya ingin divaksin.

"Akibat anjingnya tidak mau divaksin, kita sudah sosialisai lewat kecamatan, lewat desa dan tokoh masyarakat. Kita juga minta apabila ada petugas, tolong dibantu. Jangan kwatir anjingnya divaksin, jangan takut anjingnya tidak gonggong. Kita segera turunkan lagi petugas untuk melakukan vaksin. Kita tidak mau lagi ada kasus serupa," ujarnya Jumat (13/10/2017).

(Baca: Satu Anak di Sekadau Positif Rabies, Virusnya Sudah Menyerang ke Otak )

Aloy menuturkan, bila cepat ditangani dari gigitan pertama dirinya menyakini anak tersebut kondisinya tidak parah seperti saat ini. Ia mengatakan, rabies mulai dari kasus di Belitang Hulu juga terlambat penangananya hingga meninggal dunia.

“Setelah digigit mereka merasa sembuh, balik ke kampung menyakini anjingnya tidak rabies. Sering disampaikan kepada masyarakat, kalau ada petugas yang datang agar dibantu petugasnya menangkap anjingnya agar divaksin. Tidak masalah anjing divaksin. Tidak mati kok, malah terbebas dari rabies,” timpalnya.

Aloy mengatakan, pihaknya dari dinas terkait turun ke lokasi memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Bila anjing yang menggigit pasien tersebut, pihaknya juga memantau hal tersebut bila ada efeknya sembari memberikan pemahaman kepada masyarakat.

“Untuk vaksin hewan penular rabies (HPR) cukup, yang sempat kosong vaksin anti rabies (VAR). Tim juga langsung turun kelapangan,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sekadau, St Emanuel mengatakan, pihaknya mengajukan stok VAR. Kendati tak menjelaskan secara rinci, Emanuel menuturkan, saat ini stok VAR menipis.

“Kami upayakan agar stoknya tidak kosong, hanya saja menipis. Kalau sekarang, kami upayakan obat-obatnya lengkap,” kata dia.

Seperti di Sunsong, kata dia, kendalanya lantaran orang tua pasien awalnya tidak mau dibawa ke rumah sakit. Pihaknya, kata dia, bersama Dinas Peternakan juga berupaya mengantisipasi penyebaran rabies dengan pemberian vaksin.

“Kami juga melaksanakan penyuluhan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat. Tindaklanjutnya vaksinasi HPR dilakukan Dinas Peternakan,” tutupnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved