Edarkan Obat Perangsang Dicampur Tetes Mata ke Seluruh Indonesia, Pria Ini Raup Puluhan Juta

Cara pembuatan obat palsu cukup mudah yaitu obat perangsang wanita bahan bakunya adalah air mineral yang dimasukkan kedalam botol.

Tayang:
Editor: Galih Nofrio Nanda
tribunjateng/rahdyan trijoko pamungkas
Ditreskrimsus Polda Jateng gelar perkara terkait tersangka pembuat dan pengedar obat kuat pelangsing tak berizin, Senin 18 September 2017 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Sudah puluhan juta rupiah diraup pelaku sindikat produksi, dan pengedar obat palsu Mohammad Nazarudin (38) selama melakukan aksinya di Kabupaten Jepara.

Kasubdit I Industri, Perdagangan, dan Investasi, (Indagsi) Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Egy Andrian Suez menyebut ada beberapa jenis dan merek obat yang dipasarkan.

Baca: Balai POM Awasi Ketat Peredaran Obat OTT seperti PCC

"Beberapa jenis obat yang dijual yakni obat pelangsing wanita exitoc, exitoc green. Obat perangsang yakni Blue wizard, liquid sex, chlorofom Potenzol, sleeping beauty. Obat stamina pria yaitu forex Hermuno, Testo Ultra, dan Lhiforman Hammer of Thor," kata Egy saat gelar perkara di kantor Ditreskrimsus Polda Jateng, Senin (18/9/2017).

Menurutnya, bahan dan komposisi yang digunakan obat tersebut sama.

Cara pembuatan obat palsu cukup mudah yaitu obat perangsang wanita bahan bakunya adalah air mineral yang dimasukkan kedalam botol.

Baca: Heboh Ikan Raksasa Rp 500 - Warganet: Ngeri, Ini Makanannya Manusia

Lalu air tersebut ditetesi menggunakan obat tetes mata.

"Selanjutnya, obat pelangsing bahan dasarnya dari serbuk kopi yang digiling di pasar kemudian dimasukkan ke dalam kapsul dan dikemas serta diberi label. Selain itu stamina pria yang bahan bakunya dari serbuk purwoceng yang dimasukkan ke dalam kapsul dan dikemas," ujarnya.

Pelaku memproduksi obat tersebut di rumahnya.

Selain itu tersangka juga membuat label dan kardus yang digunakan untuk obat ilegal itu.

"Botol-botolnya pesan melalui online, kardus dan label ngeprint sendiri. Dalam sehari pelaku mampu mengirim sebanyak 30 hingga 60 pengiriman. Obat itu diedarkan di seluruh wilayah Indonesia," tuturnya.

Setiap bulan pelaku meraup Rp 60 jutaan.

Pelaku melakukan aksinya sejak tahun 2009.

"Dulu sempat stag namun berlanjut lagi. Nanti kami masih dalami lagi," katanya.

Sumber: TribunWow.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved