Pilkada Serentak

Angka Golput Masih Tinggi, Ini Harapan Ketua KPU Pontianak di Pilkada 2018 Mendatang

Kalau tidak berada di Pontianak, maka tidak bisa diwakilan. Sedangkan pemilihan gubernur bisa memilih di mana saja asal masih di Kalba

Penulis: Syahroni | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/SYAHRONI
Ketua KPU Pontianak, Sujadi. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pontianak menyebutkan lebih dari 30 persen warganya memilih untuk Golput atau tidak memberikan hak pilih pada setiap pemilu yang berlangsung.

Padahal Kota Pontianak, sebagai ibu kota provinsi Kalbar penduduknya lebih banyak dibanding kabupaten yang ada.

"Angka golput di Pontianak cukup tinggi yaitu lebih 30 persen. Itu disebabkan karena kita kota jasa dan perdagangan serta faktor lainnya" kata Ketua KPU Pontianak, Sujadi, Kamis (24/5/2017).

Sujadi juga menjelaskan punyebab lainnya dalam pemilihan wali kota dan wakil wali kota Pontianak dimana pemilihan memang hanya akan dilakukan di Kota Pontianak. KPU tidak menyediakan Tempat Pemungutan Suara (TPS) di luar kota dan pemilihan tidak bisa diwakilkan.

Baca: Anggota Panwas se-Kalbar Dilantik, Siapa Saja Mereka?

"Kalau tidak berada di Pontianak, maka tidak bisa diwakilan. Sedangkan pemilihan gubernur bisa memilih di mana saja asal masih di Kalbar," katanya.

Ketua KPU ini menerangkan memang pihaknya kesulitan untuk mengakomodir data, berapa banyak penduduk Kota Pontianak yang berada di luar kota. Mobilitas orang di Pontianak menurutnya terbilang tinggi. Sehingga pihaknya tidak memiliki data pasti berapa besar kemungkinan angka Golput Pilkada 2018 mendatang.

Namun berbagai cara pihaknya terus lakukan untuk menekan angka Golput. Pihaknya pun mengimbau agar para pemilik toko dan pusat aktivitas bisa memberikan waktu untuk memilih pada hari H pencoblosan.

Baca: Gelar Sosialisasi Dana Desa, Ini Pesan Kajari pada Para Kades

"Untuk di Pontianak saja, PNS kisaran 10 ribu orang, kalau PNS pasti libur tapi kalau swasta sangat sulit sekali mereka, walaupun tidak dilarang memilih. Misalnya karyawan Mega Mal yang sudah malas mau pulang mencoblos akhirnya Golput" katanya.

Bukan soal faktor ketersediaan waktu saja. Sujadi menggambarkan, memang ada sebagian orang yang enggan memberikan suaranya dalam pencoblosan. Alasannya bisa berbagai macam.

"Selain itu ada juga karena faktor apatis tidak mau memilih pemimpin karena berbagai alasan yang ada," pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved