Pedagang Temajuk Jual Gula Malaysia, Alasannya Mengejutkan

Selain CSR ada juga gula Prai, kualitasnya beda. Kalau CSR agak kasar dan mudah lembab, kalau gula Prai agak lebih halus

Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / TITO RAMADHANI
Gula kasar 1 kilogram produk Malaysia dengan merek CSR yang dijual di Toko Bintang Batas, Selasa (15/8/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Pemilik Toko Bintang Batas, Rabudin (37) mengungkapkan, ada dua merek gula pasir yang dijual di tokonya.

Yakni gula cap CSR yang diproduksi dan dikemas Gula Padang Terap Sdn Bhd, yang beralamat di KM 45, Jalan Padang Sanai, Kuala Nerang, Kedah, Malaysia.

Serta gula cap Prai produksi Kilang Gula Felda Perlis Sdn Bhd dan di distribusikan MSM Perlis SDN BHD, 02500 Chuping, Perlis, Malaysia.

"Selain CSR ada juga gula Prai, kualitasnya beda. Kalau CSR agak kasar dan mudah lembab, kalau gula Prai agak lebih halus. Kalau di Teluk Melano harganya RM 3.70 per kilonya dan untuk penjualan di sini harganya Rp 12.500," ungkapnya, Selasa (15/8/2017).

Baca: Kompak, Pengibaran Bendera Merah Putih Berjalan Sukses

Perbedaan lain menurutnya adalah dalam kemasan paket kotak. Untuk gula merek CSR dalam satu kotaknya berisi 24 kilogram atau 24 bungkus dengan setiap bungkus masing-masing 1 kilogram.

"Kalau Prai ndak ada paketannya isi 24 kilogram, cuma isi 12 kilogram saja dalam satu kotak,"jelasnya.

Pria yang akrab disapa Didit ini menegaskan, telah lama tak menjual gula produk Indonesia. Terakhir ia pernah membeli gula produk Indonesia dalam kemasan karung 50 kilogram

"Kalau gula produk Indonesia kan adanya perkarung 50 kilogram. Ndak pernah saya jual di sini, warga Temajuk ndak mengkonsumsi gula kita," tegasnya.

Baca: 72 Tahun Indonesia Merdeka, Masih 135 Desa di Ketapang Belum Nikmati Listri

Bukan tanpa alasan bagi Didit tak menjual gula produk Indonesia. Ini lantaran banyak warga Desa Temajuk yang enggan mengkonsumsinya.

Warga lebih memilih mengkonsumsi gula Malaysia yang memiliki standar yang tinggi.

"Warga kadang banyak komplen, karena gulanya mudah basah, terus semut mudah masuk, karena dikemas dalam karung jadi terbuka," urainya.

Selain itu, menurutnya pula, bagi pedagang juga tidak praktis, pedagang harus mengemas lagi gula Indonesia dalam kemasan plastik 1 kilogram.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved