Kongres Dayak Internasional
Tawarkan Gelang Belaar dan Simpai, Pedagang Kapuas Hulu Ini Raup Omzet Rp 30 Juta
Gelang ini juga adalah produk unggulan dari Kapuas Hulu, jenisnya juga banyak, sampai dengan seperti model gelang India.
Penulis: Chris Hamonangan Pery Pardede | Editor: Rizky Zulham
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Satu di antara pemilik stan, Fransiska Mening yang juga mempunyai toko Kerawing Galley di Jalan Pasar Impres Putusibbau mengungkapkan hasil dari kerajinan tangan yang ditawarkannya dalam setiap event dapat meraup keuntungan sekitar Rp 30 juta.
Fransiska Mening mengatakan, menurut suku Kayan, gelang yang dijualnya tersebut adalah gelang Belaar atau Simpai, terbuat dari resam, rotan, akar hutan dan kantong semar yang dibuat di Putusibbau Kapuas Hulu.
"Gelang ini juga adalah produk unggulan dari Kapuas Hulu, jenisnya juga banyak, sampai dengan seperti model gelang India yang mengikuti zaman dan tidak mengurangi bahan," tuturnya, Senin (24/07/2017).
Walaupun diakuinya, sementara ini, pengrajin memang kesulitan mengingat mengambil rotan susah karena sudah banyaknya sawit.
"Sekarang harus mengambil lebih kedalam lagi (bahan pembuatan gelang, Red), sedangkan sebelum ada sawit, dapat ditemui ditepi jalan," tuturnya.
Baca: Stan DAD Kalteng Tawarkan Anyaman Rotan dan Getah Nyatu
Dikatakannya, jika di hitung dari waktu mengambil bahan, menggunakan waktu satu hari, lalu dicuci, diraut dan dibelah, dan untuk mengayam tidak memerlukan waktu terlalu lama.
"Untuk gelang yang agak besar cukup waktu setengah jam, dan model dan ukuran tergantung pesanan dan pengrajin. Dan jika semakin kecil seperti cincin, maka pembuatan semakin rumit dan harganya mahal," ujarnya.
Ia menerangkan, untuk harga untuk cincin dari ayaman mulai Rp. 10-25 ribu. Sedangkan gelang mulai Rp. 20-50 ribu, bahkan tiga buah Rp. 10ribu.
"Untuk pembuatan, mulai dari mengambil bahan, dibersihan lalu dibelah, diraut halus dan siap anyam keseluruhan baru dikerjakan," bebernya.
Ia pun mengatakan, pendapatan untuk gelang serat alami dalam moment apa saja dan dimana saja, baik Batam, Jakarta selalu memenuhi pasar.
Menurutnya, konsumen pun tidak pernah bosan karena gelang juga dari serat alam tanpa bahan kimia serta ramag lingkungan dan terjangkau.
"Jika sekitar lima harian penghasilan bisa mendapat Rp. 30 juta. Kita mengambil keuntungan selisih dengan pengrajin sekitar Rp. 5 ribu," ungkapnya.
Mengenai pelaksanaan kongres, sebagai masyarakat Dayak, kata dia, merasa bangga, karena merupakan Kongres yang perdana, walaupun sedikit berbeda dengan gawai Dayak biasanya yang lebih ramai.
"Menurut saya sangat luar biasa sudah berani mengadakan Kongres Dayak Internasional pertama kali di Kalbar," tandasnya.