Warga Dusun Pinang Merah Dambakan Aliran Listrik Masuk Kampungnya

Ketua RT Dusun Pinang Merah, Lamsah mengatakan bahwa sejak awal di dusunnya tidak mendapatkan jaringan listrik PLN.

Penulis: Zulfikri | Editor: Mirna Tribun

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Raymond Karsuwadi 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Saat ini beberapa daerah di Kabupaten Sambas masih ada yang belum teraliri listrik.

Satu diantaranya Dusun Pinang Merah, Desa Simpang Empat, Kecamatan Tangaran.

Ketua RT Dusun Pinang Merah, Lamsah mengatakan bahwa sejak awal di dusunnya tidak mendapatkan jaringan listrik PLN.

Jika dihitung dari jumlah kepala keluarga, dusunnya mencapai 300 an KK dan hanya perlu 300 meter dari desa no 4 Kecamatan Jawai yang telah memiliki jaringan listrik PLN.

Baca: Meski Setya Novanto Ditetapkan Tersangka, Bebby Nailufa Sebut DPD Golkar Pontianak Tetap Solid

"Dari dahulu dusun kami tidak memiliki listrik. Padahal, dari desa no 4 kecamatan jawai hanya 300 meter dari dusun kami tapi mereka telah memiliki listrik. untuk Kepala keluarga didusun ini mencapai 300-an, dan merupakan jalan yang menghubungkan Kecamatan Jawai dan teluk keramat hingga ke paloh," ungkapnya, Selasa (18/7/2017).

Saat ini, kata dia, warga masih mengandalkan penerangan pada panel surya. Pemanfaatannya hanya bisa digunakan untuk satu lampu 3 watt.

"Bagi yang mampu, bisa menggunakan genset. Namun, dua liter solar hanya mampu menerangi dua jam. Jika semalam, tentu lumayan. Bahkan saat bulan puasa ini, tadarusan di masjid hanya diberikan waktu sampai jam 10 karena faktor biaya bahan bakar tadi " ungkapnya.

Sekitar 13 belas tahun yang lalu, ungkapnya, ada rencana listrik akan masuk. Tetapi, sampai saat ini belum juga ada aksi nyatanya.

"Dulu kita bahkan menebangi kelapa di sepanjang jalan, hanya untuk memudahkan masuknya listrik. Hingga sekaramg, belum juga ada tanda-tanda pemasangan," katanya.

Selain masalah listrik, kondisi jalan juga mengkhawatirkan. Jalan yang berpasir, sangat menyulitkan saat berkendara.

"Jika musim tidak hujan, jalan lumayan agak keras. Kalau hujan, jalan sangat menulitkan ketika berkendara," ungkapnya.

Kata dia, warga yang hampir 80 persen nelayan. Mengaku kesulitan untuk menjalankan roda ekonomi masyarakat, lantaran kedua faktor penting tersebut tidak tersedia.

"Jika ingin menjual hasil tangkapan, ikan tentunya perlu di es dulu. listrik tidak ada, bangaimana ikan bisa bertahan. Begitu juga akses jalan. Sangat menyulitkan, ketika ingin membawanyan keluar daerah," keluhnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved