Citizen Reporter

Hadiri Gawai Dayak, Ontot: Budaya Jati Diri Suatu Suku

Ada yang status jalan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat dan merupakan kewenangan Negara untuk membenahinya.

Penulis: Hendri Chornelius | Editor: Jamadin
ISTIMEWA
Wakil Bupati Sanggau Yohanes Ontot saat mengaduk dan memasukkan semen ke lubang penancapan tiang pertama Rumah Betang, Dusun Tapang Sebuloh, Desa Malenggang, Kecamatan Sekayam, Sabtu (24/6). 

Citizen Reporter

Humas Setda Sanggau, Christ TCG

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Wakil Bupati Sanggau Yohanes Ontot menuturkan Gawai Dayak, Tuak dan Rumah Betang merupakan indikator identitas dan ciri suatu suku yang merupakan alat pemersatu orang Dayak untuk mempertahankan harkat dan martabat orang Dayak itu sendiri.

“Tuak adalah minuman khas tradisional, yang diminum saat gawai Dayak dengan cara yang sudah menjadi tradisi atau kebiasaan didaerahnya dan bukan sekedar pesta untuk mabuk-mabukan, ” katanya dalam sambutannya pada acara Penancapan tiang pertama Rumah Betang, di Dusun Tapang Sebuloh, Desa Malenggang, Kecamatan Sekayam, Sabtu (24/6/2017)

Dikatakanya, gawai Dayak merupakan kegiatan ungkapan syukur masyarakat kepada tuhan atas panen padi setelah bertani dalam satu tahun. sedangkan Rumah Betang itu adalah tempat tinggal orang dayak pada zaman dahulu dan sekarang menjadi tempat berkumpul orang dayak untuk melakukan kegiatan kebudayaan sekaligus bersilaturami untuk mempererat kekerabatan.

Wabup yang saat itu hadir bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Sanggau A L Leysandri, didampingi, Ketua GOW Yohana Kusbariah dan Ketua DWP Agnes Leysandri, menyampaikan bahwa pembangunan rumah betang suku dayak Iban ini merupakan wujud pertahanan dan pelestarian Budaya yang diwariskan nenek moyang sejak ratusan yang lalu.

Dikatakanya, Pemerintah Daerah sangat merespon pembangunan dibidang kebudayaan dan keimanan, terrangkum dalam Seven Brand Image Sanggau yaitu Sanggau Budiman (Berbudaya dan Beriman).

Ontot berpesan, agar masyarakat tetap menjaga tolenransi beragama dan tidak menganggap salah satu agama yang paling benar. Ia menegaskan, tidak ada yang salah dengan agama, yang tidak benar itu adalah oknumnya yang menyalahgunakan fungsi agama untuk kepentingan tertentu.

Acara penancapan tiang pertama Rumah Betang tersebut juga dihadiri kerabat Dayak dari Malaysia. Ontot menambahkan, tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia dan Malaysia adalah satu rumpun.

“Walaupun berbeda Negara tapi ada kesamaan yaitu budaya. Di Indonesia ada orang Dayak, di Malaysia ada orang Dayak juga, ” ujarnya.

Menyinggung masalah jalan, Wabup menjelaskan bahwa jalan yang masih rusak tidak seluruhnya tanggung jawab Kabupaten. Ada yang status jalan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat dan merupakan kewenangan Negara untuk membenahinya.

Sementara yang menjadi tanggung jawab Kabupaten, tetap menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten namun tidak bisa cepat ditangani karena anggaran yang sangat terbatas.

“Yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat, tidak boleh dianggarkan menggunakan APBD Sanggau. Untuk pembangunan Desa, bisa menggunakan APBDes yang disalurkan Pemerintah Pusat, ” jelasnya.

Ontot juga menambahkan, bagaimana kepedulian Perusahaan kepada Daerah tempat mereka beroperasi. perusahaan berkewajiban mendukung kegiatan masyarakat melalui CSR. Disisi lain, masyarakat Malenggang harus gotong royong untuk kepentingan bersama.

Kades Malenggang, Johan mengaku pihaknya tidak mengajukan bantuan dana kepada Pemerintah Kabupaten, melainkan mengajukan bantuan dana kepada pihak Perusahaan yang beroperasi di daerahnya, karena perusahaan tersebut beroperasi di tanah adat. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved