Redenominasi Perlu Kajian Mendalam, Ini Analisa Pengamat Ekonomi

Bukan karena kestabilan harga. Artinya perlu kajian mendalam terhadap penerapan redenominasi rupiah tersebu

Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / MASKARTINI
Pengamat Ekonomi Untan, Muhammad Fahmi 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat Ekonomi Untan, Muhammad Fahmi mengatakan, untuk menerapkan redenominasi memerlukan kajian yang mendalam terutama berkaitan dengan Cost and benefit.

"Tak kalah penting yaitu sosialisasi yang masif kepada masyarakat. Beberapa alasan yang menjadi dasar pertimbangan, antara lain situasi perekonomian nasional dan global, serta kondisi politik dan juga sosial terutama di dalam negeri," terangnya.

Ekonomi yang stabil, lanjut dia  juga belum berarti secara substansi tidak ada kendala. Misalnya inflasi yang rendah mungkin karena daya beli masyarakat yang rendah.

"Bukan karena kestabilan harga. Artinya perlu kajian mendalam terhadap penerapan redenominasi rupiah tersebut," tambahnya.

Wacana redenominasi rupiah dalam rangka menyederhanakan nilai mata uang merupakan wacana yang sempat santer terdengar pada tahun 2014 lalu. Harapannya agar lebih ringkas dan tidak terlalu banyak bilangan nol nya. Misalnya, nilai Rp 1.000 disederhanakan menjadi Rp 1 atau Rp 10.

Negara yang sudah berhasil menerapkan redenominasi terhadap mata uangnya antara lain seperti Turki. Redominasi ini memang dilihat memberikan dampak secara langsung seperti kepercayaan masyarakat dibanding dengan negara tetangga yang nilai uang mereka tidak banyak nilai nol nya.

Sehingga kalau ini diterapkan pada rupiah maka jumlah nol nya tidak akan secara jauh dibanding negara di Asean Seperti Malaysia dan lainnya.

"Memang harus ada kajian mendalam untuk mengimplementasikannya apabila RUU nya sudah menjadi Undang-Undang. Karena kondisi yang baik juga dilihat apakah temporer atau mmg substansinya sudah baik," imbuhnya.

Dampak ke masyarakat tentu adanya kepanikan jika kurangnya sosialisasi. Karena bisa saja masyarakat mengira uangnya berkurang dan cepat mengkonversi menjadi barang dan berimplikasi meningkatkan inflasi. Bagi pengusaha akan terjadi kekacauan dan high cost adjustment di pengusaha apabila kurang sosialisasi yang secara tekhnis perlu penyesuai disegala lini. Misalnya komputerisasi yang harus menyesuaikan secara nominal yang baru.

Membesarnya potensi inflasi di masa depan secara teknis, misalnya 1.100 menjadi 1.157 kalau redenominasi yang tadinya 1,10 menjadi 1,16. Dampak lainnya adanya potensi inflasi di masa depan secara psikologis. Dimana biasanya angka Rp 1 naik menjadi Rp 2 secara psikologis bagi masyarakat biasa sehingga diabaikan kenaikan tersebut padahal hal tersebut significant.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved