Jadi Relawan Lingkungan, Ini Alasan Kurniawan
Tidak peduli seberapa besar dampak yang kita berikan, asalkan kita memberi dampak
Penulis: M Arief Pramono | Editor: Jamadin
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Listya Sekar Siwi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pemuda merupakan tonggak utama pembangunan suatu bangsa. Namun sesungguhnya tidaklah akan menjadi apa-apa apabila pemuda tidak memberikan kontribusi aktif kepada masyarakat dan negara.
Mas Ariandi Kurniawan atau yang akrab dipanggil Didi memulai aktivitas kerelawanannya sejak 2012 ketika mengikuti beberapa kali kegiatan penanaman mangrove di Mempawah, tempat ia berasal. Kemudian semakin aktif pada bidang lingkungan ketika mendirikan HiLo Green Community Pontianak.
“Sejak awal emang senang sama kegiatan lingkungan sehingga pas bangun HGC dari nol benar-benar berasa berjuang untuk mengimplementasikan passion ke dalam kehidupan,” ungkap pemuda 21 tahun ini.
Sebagai founder sekaligus Ketua HGC Pontianak sejak 30 April 2015 hingga sekarang, komunitas yang ia pimpin itu telah melakukan kegiatan lebih dari 80 kali.
“Sekarang sebelum regenerasi ketua, saya mengarahkan HGC untuk berfokus pada kegiatan inti yaitu Kampung Bersih dan Green Leader Initiative sebagai kegiatan pelatihan siswa di Kota Pontianak dan sekitarnya, namun kegiatan kampanye green lifestyle tetap harus dipertahankan," ungkapnya.
Selain aktif di bidang lingkungan, pemuda asal Mempawah ini juga memberikan warna pada dunia kepemudaan setelah berhasil menjadi Delegasi Kalimantan Barat untuk Program Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP) 2015 di Jepang dan 5 Negara Asia Tenggara. “SSEAYP did not change my life, but it changed the way how i see the life," ujarnya.
Ketika kembali dari program, dirinya menjadi visioner yang memiliki mimpi besar untuk perubahan di masyarakat. Tentunya mimpi tersebut diiringi usaha yang besar dengan meniti dari hal kecil, perlahan ia melanjutkan dan mengembangkan apa yang sudah ia lakukan sebelumnya dan mengisiasi hal baru yang ia pelajari di program. Satu di antaranya adalah proyek PIKNIK atau Pikir Dulu Sebelum Paknik.
Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengetahuan tentang bencana alam agar terhidar dari resiko kerugian, kerusakan bahkan kematian. Efek dari inisiasi proyek ini, Didi menjadi narasumber tetap setiap bulannya untuk program lingkungan pada salah satu radio di Pontianak untuk membicarakan tentang pengurangan resiko bencana alam.
Keaktifan di bidang lingkungan dan kepemudaan membawa mahasiswa akuntansi UNTAN ini menjadi Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara 2017 untuk 2 tahun kedepan. Ia baru saja kembali dari pembinaan aktivis seluruh Indonesia di Jogja pada Future Leader Camp dan akan dilanjutkan dengan program magang di perbatasan selama satu bulan pada tahun ini.
Tidak hanya itu, seiring menjalankan kegiatannya ia sering diundang sebagai pembicara untuk menyampaikan inspirasi kepada pemuda lainnya tentang pengalaman dan perannya untuk masyarakat.
"Menjadi aktivis itu capek dan tidak dibayar, namun ada kepuasan dan kebahagiaan tersendiri ketika kita mampu merangkul teman di komunitas dan mengukir senyum pada mereka yang menjadi sasaran dalam kegiatan yang kita lakukan” ujarnya.
Satu pelajaran yang dapat ditarik adalah menjadi seorang aktivis ternyata sangat menyenangkan dan memberikan keuntungan terutama pengalaman dan jaringan yang luas.
”Tidak peduli seberapa besar dampak yang kita berikan, asalkan kita memberi dampak. Karena sesungguhnya tidak semua yang melihat dapat merasakan dan tidak semua orang yang mendengar dapat dengan peka menyadari. Hadirlah sebagai sosok yang mampu memberi apresiasi dan menghargai orang lain tanpa melihat dampak yang ia berikan," tukasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/mas-ariandi-kurniawan_20170516_135004.jpg)