Sutarmidji Minta Perbarindo Lebih Kreatif

Dengan era kredit murah saat ini, mereka (BPR) harus mempersiapkan diri agar bisa berkompetisi di industri tersebut

Penulis: Syahroni | Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / SYAHRONI
Wali Kota Sutarmidji saat melakukan pertemuan dengan anggota Perbarindo Kalbar, Rabu (3/5/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -  Wali Kota Sutarmidji minta Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat (Perbarindo) harus lebih kreatif dalam menghadapi era kredit murah. 

Selama ini menurut Midji, BPR sudah terbiasa memberi kredit yang lebih tinggi dari bang lainnya.

"Dengan era kredit murah saat ini, mereka (BPR) harus mempersiapkan diri agar bisa berkompetisi di industri tersebut," ucapnya, Rabu (3/5/2017).

Awalnya merupakan ranah BPR dalam memberikan kredit pada para pelaku UMKM, kareba keterbatas cash flow tentu tidak bisa memberikan kredit yang besar pada nasabah.
Namun dengan adanya penurunan bunga KUR dari 22 menhadi 9 persen. Menurut Midji, ancaman serius bagi BPR yang ada.

Maka BPR harus putar otak dan kreatif untuk menghadapi itu. Terlebih menurutnya kalau KUR ini diturunkan lagi menjadi 7 persen bunganya maka ia perkirakan BPR yang bisa bertahan, hanya BPR yang memiliki cash flow besar. Kalau BPR yang kecil maka akan akan tumbang, kecuali yang milik Pemda.

Karena BPR Pemda, bisa disuntik dana tanpa bunga atau dimasukab progran pemerintah dengan subsidi bunga.

Midji juga meminta BPR untuk melakukan sosialisasi terus menerus. Kehadiran BPR juga disarankannya bisa membuat terobosan baru. Misalnya pola kredit 30 hari, 60 hari dan sebagainya.

Sehingga BPR bisa bersaing, kalau BPR tidak berinovasi maka ia tak nyakin BPR mampu bertahan.

Walaupun ia sangat senang KUR bisa murah bunganya, tapi dari segi BPR maka harus putar otak.

Untuk BPR Kota Pontianak, ia mengarahkan untuk pembiayaan proyek-proyek kecil. Misalnya proyek dibawah Rp 200 juta, namun dengan catatan masa pengerjaan dibawah dua bulan. Karena spek nilai tambahnya berkurang dan resikonya besar.

Ia juga katakan kalau pangsa pasar yang bisa digarap BPR masih sangat besar, karena BMT dan koperasi bisa berjalan baik maka BPR juga bisa.

Hal itu dilihatnya karena persyaratan dan birokrasi di BPR masih rumit. Sehingga masyarakat meninggalkannya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved