Komunitas Peduli Listrik Bagi Stiker Kenalkan Komunitas
Agar segala sesatu yang menghambat atau yang menjadi tantangan pihak penyedia layanan listrik untuk memberikan pelayanan maksimal bisa ditekan.
Penulis: Nina Soraya | Editor: Rizky Zulham
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Komunitas Peduli Listrik (KPL) menggelar pembagian stiker komunitas di Car Free Day (CFD), Minggu (16/4/2017). Pembagian stiker ini ditujukan untuk mengenalkan komunitas yang baru terbentuk sejak akhir 2016 lalu ini.
Koordinator KPL, Pontiana Banjaria, menyebutkan komunitas ini peduli atas dasar pentingnya semua pihak untuk bersama menjaga kehandalan listrik di Kalbar.
Oleh karena listrik merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan. Bahkan bila ditelaah dari sisi ekonomi makro maka tanpa adanya infrastruktur listrik yang memadai maka investor pun ogah dating ke daerah sini untuk berinvestasi.
“Komunitas ini bersifat terbuka bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi dan bergabung. Kita sama-sama melakukan aksi nyata, agar segala sesatu yang menghambat atau yang menjadi tantangan pihak penyedia layanan listrik untuk memberikan pelayanan maksimal bisa ditekan atau dihilangkan,” katanya.
Baca: Puluhan Tahun Warga Pulau Bawal Ketapang Hidup Tanpa Listrik
Dari kajian KPL sendiri, satu di antara yang menjadi masalah listrik di sini adalah alasan pemadaman karena layangan. Padahal daya mampu di sini sudah mencukup bahkan surplus.
“Layangan selalu dianggap masalah klasik, semacam antara mitos atau fakta. Padahal pemakaian gelasan kawat dalam permainan layangan itu sangat berbahaya sekali. Gelasan atau kawat yang mengenai jaringan listrik atau gesekkannya menimbukan bunga api atau korsleting. Bahkan kami baca di media beberapa kali Gardu Induk mengalami hal ini akibatnya ada terpaksa diputus aliran listrik. Kalau begini kan sebenaranya yang dirugikan masyarakat luas,” urainya lebih lanjut.
Menariknya dari kuisoner yang dibagikan ke masyarakat pada hari ini, hampir rata-rata responden sadar terhadap dampak laying-layang tersebut.
“Hampir 90 persen (responden) tahu dampak bahaya layangan bagi diri mereka, bagi kelistrikan, bahkan kerugian materi untuk mereka,” ungkapnya.
Lanjutnya, bahkan ada yang menjadi korban langsung atau anggota keluarganya yang jadi korban. “Ketika kita mintakan pendapat tadi, rata-rata semuanya mau permainan layangan ini ditertibkan,” katanya.
Rencananya dalam waktu dekat, KPL akan menggelar focus grup discussion (FGD) terkait hal ini. Hasil jajak pendapat yang KPL lakukan, termasuk jajak pendapat di media sosial akan jadi bahan acuan FGD.
Narasumber yang akan dihadirkan di antaranya dari Pemkot Pontianak, Kepolisian, Pengadilan Negeri, akademisi, PLN masyarakat umum dan lainnya.
Ke depannya akan banyak kegiatan yang bakal dibuat, kegiatan yang berinteraksi dengan masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/komunitas-peduli-listrik_20170416_131419.jpg)