Potret Murid SDN 9 Kederas
5 Fakta Murid SD di Sintang Bertaruh Nyawa ke Sekolah! Nomor 4 Bikin Merinding
Realita ini membuat orangtua siswa harus mengantar anaknya menggunakan sampan, karena tidak semua murid bisa berenang.
Penulis: Jimmi Abraham | Editor: Marlen Sitinjak
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG – Sejumlah murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 9 Kederas bisa saja celaka jika mereka tiba-tiba terpeleset dari jembatan yang dilalui.
Ya, bocah-bocah SD ini saban harinya bertaruh nyawa kala melalui jembatan untuk pergi-pulang sekolah.
Berikut ini fakta tentang perjuangan murid SDN 9 Kederas dan warga Dusun Kederas Hulu, Desa Dedai Kanan, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar), melintasi jembatan alternatif tersebut.
1. 40 Kilometer dari Kota Sintang
Masyarakat setempat berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sintang membangun jembatan representatif sebagai akses alternatif menuju sekolah yang berjarak sekitar 41 Kilometer (Km) dari Kota Sintang.
Jembatan alternatif yang dilintasi murid SDN 9 Kederas, kondisinya memprihatinkan.
Untuk meniti jembatan terbuat dari batang pohon tebedak air seukuran dekapan orang dewasa ini perlu pandangan fokus dan kehati-hatian.
Siswa-siswi harus memegang erat batang bambu berdiameter seperti bola kasti dan kayu tebedak air ukuran sedang yang terpaku membentang di sisi kanan dan kiri jembatan.
Kondisi batang kayu pijakan juga kian tua, ini ditunjukkan dengan mengelupasnya lapisan kulit luar.
Hal ini membuat permukaan kayu licin, terutama usai hujan turun.
Apabila nasib tak mujur, karena langkah kurang terukur.
Bisa saja pelintas terpeleset dan jatuh ke Sungai Temutok yang kini airnya tengah surut.
Ketinggian jembatan dari dasar Sungai Temutok sekitar 6 meter.
2. Dibangun Tiga Tahun Silam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/siswa-sdn-9-kederas_20170410_192843.jpg)