Seniman Kalbar Kenalkan Musik Etnis Hingga ke Penjuru Negeri
Artinya kesenian itu memberikan seseorang sebuah kehidupan, dan sampai saat ini aku dihidupi dengan kesenian itu
Penulis: Anesh Viduka | Editor: Jamadin
Laporan Fotografer Tribun Pontianak, Anes Viduka
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Banyak orang yang bisa menghidupkan kesenian tapi tidak bisa hidup dari kesenian tersebut. Tapi para seniman tak hanya bisa menghidupkan kesenian melainkan hidup dari kesenian itu.
"Artinya kesenian itu memberikan seseorang sebuah kehidupan, dan sampai saat ini aku dihidupi dengan kesenian itu," terang Ferdinan.
Pria yang akrab disapa Mbah Dinan ini adalah satu di antara seniman Kalbar yang tak pernah berhenti memperkenalkan musik etnis Kalimantan Barat hingga ke penjuru negeri ini.
Hingga kini,ia telah mementaskan musik tradisional Kalimantan hingga ke Riau, Bengkulu, Jambi, Padang,Jawa, NTB bahkan Papua.
Disetiap pementasan musiknya selalu mengisahkan tentang cerita dan legenda dari masyarakat dayak.
Sejak duduk dibangku Sekolah Dasar, ia sudah mengenal musik, tapi tertarik dengan musik tradisional sejak usia 17 tahun, kemudian menginjak usia 20 tahun ia mulai menekuni seni musik dayak, kini, hampir semua alat musik tradisional bisa dimainkan, beberapa di antaranya seperti gong ,dau, kenong, ketubong, saron, safe, namun ia mengaku lebih piawai memainkan alat musik tabuh dan suling.
Menurut Mbah Dinan, musik dayak itu menarik dan unik, keunikannya terdapat di nada-nadanya, kemudian musik dayak itu kata Mbah Dinan cenderung dekat dengan alam yang berkaitan antara manusia dengan alam dan kepercayaan mereka terhadap Tuhan.
"Nah, jadi di musik itu digambarkan bagaimana masyarakat dayak itu memandang suatu kekuatan yang ada dibalik alam ini, kemudian sesuatu yang dapat menimbulkan sesuatu kekuatan tertentu yang memberikan mereka suatu penghidupan, misalnya makan,minum yang mereka dapat dari alam, nah itu lah yang digambarkan dalam musik dayak," Jelas pria kelahiran 23 November 1975 itu.
Kemudian, lanjut Mbah Dinan, musik dayak itu sederhana tapi unik, ketika dikolaborasikan dengan musik-musik modern, bisa mempunyai keunikan tersendiri tanpa menghilangkan nilai budaya dari daerah asalnya.
"Musik itu menggambarkan sebuah kebudayaan yang ada di masyarakat, ketika bersentuhan dengan seseorang, musik itu adalah dia, apa yang ingin dia sampaikan dan apa yang ingin dia susun, jadi musik itu adalah sebuah penggambaran manusia," Ujar pria lulusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta tersebut.
Baginya, bermusik bukan hanya sekadar memainkan sebuah alat musik dengan indah, tapi melalui musik yang kita bawakan ada pesan yang harus sampai ke pendengar.
"Secara harfiah, melalui sebuah permainan musik kita ingin menyampaikan, ini loh sebuah musik dayak yang sebenarnya bisa di angkat ke arah modern, kemudian secara maknawinya bahwa ini loh sebuah kehidupan tentang masyarakat dayak yang didalamnya ada konflik pribadi, konflik sosial, tapi ini loh sebuah keterikatan masyarakat dayak itu antara dia,alam dan Tuhannya. Musik itu juga prodak budaya dan dia memang penggambaran tentang kebudayaan masyarakat yang memilikinya," Ujar pria asal Banjarmasin tersebut.
"Ada orang yang jago bermain, ketika kita kasi dia langsung dapat, tapi rasanya itu loh ndak sampai, ya itu karena ia tidak menjadi bagian dari cerita yang ada dimusik itu, Ketika kita memainkan musik dayak, ya kita harus memainkannya sebagai orang dayak bukan sebagai orang yang ahli, kalau kita sebagai orang yang ahli, ujung-ujungnya skil semua yang kita mainkan, ketika kita membawakan musik yang menceritakan sebuah legenda ya kita terlibat didalamnya, kita harus menganggap bahwa cerita itu adalah cerita kita," tambah ayah dua anak itu.
Seiring berjalannya waktu, menurut Mbah, perkembangan musik tradisional di Kalbar mengalami kemajuan walau berjalan lambat, jika dibandingkan dengan perkembangan musik tradisional di daerah lain, karena terkendala di minimnya dana serta kurangnya usaha dari pemerintah yang ikut memperjuangkan bahwa kesenian itu juga bisa menjadi sebuah ikon didaerahnya sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/mbah-dinan_20170227_102453.jpg)