Ritual Pesta Pernikahan Adat Dayak Kanayatn Nilai Budaya yang Diwariskan Turun Temurun

Berbagai kelengkapan adat tersaji dalam piring dan wadah yang diletakkan di atas teras rumah.

Tayang:
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Jamadin
TRIBUN PONTIANAK/Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Acara adat pernikahan pasangan Felix Katoro dan Godeliva Marnina Femini di Gang Bakti, Jalan Yam Sabran, Pontianak Timur, Senin (7/11/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

 TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK  - Ritual adat perkawinan Dayak Kanayatn merupakan satu di antara nila-nilai budaya yang telah diwariskan turun temurun oleh para orangtua dahulu kepada anak cucuk masyarakat Suku Dayak Kanayatn.

Berbagai kelengkapan adat tersaji dalam piring dan wadah yang diletakkan di atas teras rumah. Disaksikan semua pasang mata yang hadir pada acara adat pernikahan pasangan Felix Katoro dan Godeliva Marnina Femini di Gang Bakti, Jalan Yam Sabran, Pontianak Timur, Senin (7/11/2016).

Proses awal ritual adat perkawinan dari kedua keluarga diawali dengan acara adat nabok Ka Saka Ka Maraga yang bertujuan meminta izin kepada Jubata bahwa akan digelar ritual adat.

Kemudian ritual dilanjutkan dengan acara adat Maduduk Buah Tangah dengan menggunakan tempayan, ayam, dan kelengkapan lain. Ritual ini memohon perlindungan agar acara dapat berjalan dengan lancar.

Baca: Tarian Dayak Kalbar Pukau Warga Solo

Acara selanjutnya, kata Jakarias, ialah acara panganten baradabm. Dimana duduk pasangan pengantin, orangtua kedua belah pihak, picara dan tetua yang ada. Ini disebut buis panganten.

Dalam acara ini ditampilkanlah kelengkapan acara seperti tingkalakng parimatatn, tingkalakng panganten, subak picara, subak pangarabanam, pangantak kampong, pirikng waris. Kemudian dibagilah piring dari pengantin perempuan dan laki-laki.

Lalu penyerahan tingkalakng panganten dan parimatatn oleh kedua belah pihak. Dalam proses ini ada namanya tingkalakng bidan, baru setelah itu penyerahan subak picara dan diberikan juga pangantak kampong.

Setelah menerima tingkalakng panganten, mereka mengelilingi rumah dengan diberikan beras kuning dan mencuci kaki pasangan pengantin agar selamat dan membersihkan dari segala yang jahat. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved