Breaking News

Tengkawang, Komoditas Unggulan Kalbar yang Dulu Populer Kini Meredup

Keduanya, baik burung enggang gading dan buah tengkawang, disebut sebagai fauna dan flora khas endemik tanah Borneo.

Penulis: Ishak | Editor: Mirna Tribun
TRIBUNPONTIANAK/ISHAK
Direktur Pontianak Urban Forest, Deman Huri, saat dijumpai di Hotel Borneo, Selasa (01/11/2016). TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / ISHAK 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ishak

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Jika melihat maskot Kalbar, kita akan dapati dua benda yang ada di maskot tersebut.

Yakni, burung enggang gading dan buah tengkawang.

Baca: Jeruk Madu Komoditas Andalan Sambas

Keduanya, baik burung enggang gading dan buah tengkawang, disebut sebagai fauna dan flora khas endemik tanah Borneo.

Baca: Komoditas Peternakan dan Perikanan Defisit

Namun, siapa sangka, tengkawang dulunya pernah menopang kejayaan tanah Borneo.

Buah tengkawang, menjadi satu dari beberapa komoditas unggulan yang menopang perekonomian orang-orang yang ada di tanah khatulistiwa ini.

"Kerajaan-kerajaan di Kalbar dulunya ditopang satu di antaranya oleh tengkawang. Pendapatan kerajaan itu dua, damar dan tengkawang," ujar Direktur Pontianak Urban Forest, Deman Huri, saat dijumpai dalam agenda Workshop Jaringan Tengkawang Kalimantan II, di Hotel Borneo, Selasa (1/11/2016).

Pada perjalanannya, setelah Indonesia merdeka dan Kalimantan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tengkawang masih menjadi andalan dalam menyokong Pendapatan Asli Daerah Kalbar.

"Tengkawang itu dulu ada di nomor empat. Terakhir mendekati era reformasi, itu di nomor sembilan (dalam menghasilkan pundi-pundi PAD)," ungkapnya.

Pria yang dulunya cukup familiar dengan sapaan aktivis seribu bendera ini juga memaparkan, tengkawang sendiri dulunya seakan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kearifan lokal masyarakat.

"Tradisi masyarakat Dayak dan Melayu, khususnya yang ada di pedalaman, di belakang rumahnya, dan di tembawangnya (tanah warisan nenek moyang) selalu ditanami tengkawang," paparnya.

Buah tengkawang, dulunya adalah komoditas andalan untuk berbagai kebutuhan.

Mulai dari keperluan pangan, hingga dalam beberapa situasi, juga digunakan sebagai bahan pengobatan.

Namun, bukan zaman namanya jika sesuatu tak berubah.

Jika setiap kejayaan punya masa kemundurannya sendiri-sendiri, begitu pula dengan tengkawang.

Perubahan zaman, pada akhirnya memaksa popularitas buah tengkawang sebagai komoditas unggulan meredup.

"Mengapa ini habis, itu dikarenakan jelang era reformasi, keran ekspor kayu diperbolehkan. Sementara di satu sisi lain, karena perekonomian kurang baik, pembeli buah tengkawang hampir tidak ada," kisahnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved