Taman Nasional Gunung Palung Banyak Menyimpan Keragaman Tumbuhan dan Satwa
Setidaknya Mas Endro, demikian ia disapa sehari-hari menceritakan pengalamannya selama 10 tahun meneliti bersama peneliti dari dalam ataupun...
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Editor: Mirna Tribun
Citizen Reporter I Petrus Kanisius, Yayasan Palung
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Untuk kesekian kalinya Yayasan Palung berkesempatan cuap-cuap dengan mata acara bincang hijau di Radio Kabupaten Ketapang.
Senin (19/07/2016) pekan lalu, dengan mengetengahkan pembahasan tentang Vegetasi Hutan dan Tumbuhan Endemik. Kali ini Vegetasi Hutan dan Tumbuhan Endemik di Taman Nasional Gunung Palung.
Dalam kesempatan bincang hijau tersebut, hadir sebagai narasumber adalah Endro Setiawan, Pengendali Ekosistem Hutan Pertama, dari Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP) yang berpengalaman dalam kegiatan-kegiatan penelitian.
Endro Setiawan merupakan Kepala Unit Pengelolaan Stasiun Penelitian Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung. Seperti diceritakannya, setidaknya Mas Endro, demikian ia disapa sehari-hari menceritakan pengalamannya selama 10 tahun meneliti bersama peneliti dari dalam ataupun dari luar negeri.
Dalam penjelasannya, Endro menceritakan di Kawasan Taman Nasional Gunung Palung banyak menyimpan keragaman tumbuhan dan satwa endemik yang dapat dijumpai disana (Gunung Palung). Gunung Palung yang merupakan kawasan hutan tropis dipterocarp dataran rendah terbaik yang masih tersisa saat ini.
Di kawasan TNGP terdapat kurang lebih 4000 jenis tumbuhan berkayu, dengan tumbuhan primadonanya yaitu jenis-jenis family Dipterocarpaceae (meranti-merantian).
"Ragam tumbuhan lain seperti meranti, ulin, rengas, ramin, mudah dijumpai di kawasan ini," kata Endro.
Selain itu banyak juga tumbuhan yang berpotensi sebagai tumbuhan obat. Ragam jenis tumbuhan seperti anggrek, aroid dan kantong semar juga bisa dijumpai di kawasan TNGP terlebih anggrek hitam yang masuk dalam tumbuhan endemik.
Menariknya seperti lebih lanjut dijelaskan oleh Endro, tipe hutan di Gunung Palung yang hanya memiliki ketinggian 1.116 mdpl, tetapi memiliki hutan sub alpin. Mengingat, pada umumnya hutan Sub alpin berada diketinggian diatas 2500 mdpl.
Adanya hutan Sub alpin di Gunung palung dikarenakan adanya Massenerhebung effect (Efek Massenerhebung) yang merupakan variasi dalam garis pohon berdasarkan ukuran gunung dan lokasi. Secara umum, pegunungan dikelilingi oleh rentang besar akan cenderung memiliki garis pohon lebih tinggi dari pegunungan lebih terisolasi karena retensi panas dan bayangan angin.
"Efek ini penting untuk menentukan pola cuaca di daerah pegunungan, sebagai daerah ketinggian yang sama dan lintang mungkin tetap memiliki iklim jauh lebih hangat atau lebih dingin berdasarkan sekitarnya pegunungan," terang Endro.
Selain itu, di Gunung Palung terdapat pula ragam satwa endemik seperti orangutan, kelempiau, kelasi, enggang (rangkong), macan dahan dan beberapa jenis satwa lainnya seperti burung dan jenis herpetofauna (amfibi).
Setidaknya dalam data, terdapat 250 jenis burung dan 70 jenis mamalia. Beberapa diantaranya berperan sebagai pemencar biji tumbuhan di hutan.
Di Taman Nasional yang memiliki luasan 90.000 hektare tersebut jugat memiliki ragam tipe hutan, tipe hutan tersebut adalah Hutan Mangrove, Hutan Rawa gambut, Hutan Rawa Air Tawar, Hutan Dataran Rendah Dipterocarpaceae, Hutan tanah Alluvial, Hutan Sub Alpin dan Vegetasi Reofite.
Ragam tipe hutan yang terdapat di kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) menjadi kekayaan alam yang tidak ternilai harganya, sebagai tempat hidup satwa dan juga dapat dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/endro-setiawan-saat_20160828_165712.jpg)