Berita Video
[VIDEO] Kisah Penambang Beralih Menjadi Nelayan setelah Hadir Jembatan Tayan
Langit biru mulai tampak saat fajar mulai terlihat sedikit demi sedikit menyingsing diufuk timur.
Penulis: Tito Ramadhani | Editor: Steven Greatness
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Jam dinding saat itu masih menunjukkan pukul 05.01 WIB. Namun, Asia (67) telah terlihat sibuk menyiapkan jalanya untuk mencari ikan.
Tak lama, Asia mengisyaratkan untuk segera turun menuju tepian Sungai Tayan di depan rumahnya di Dusun Tanjung Kapuas, Desa Pedalaman, Kecamatan Tayan Hilir.
Pagi itu, kami bermaksud menuju kawasan yang kerap menjadi tempat Asia mencari ikan. Ada dua perahu yang kami gunakan. Asia memasang satu mesin berkekuatan 2,5 PK di belakang perahunya. Sementara satu perahu lainnya, cukup ia ikatkan ke samping perahu yang kami tumpangi.
Tak hanya www.tribunpontianak.co.id, Asia juga mengajak serta menantunya Firmansyah (38) dan cucu laki-lakinya Iftah Qalbi Syara (5,3) menyusuri Sungai Tayan.
Pemandangan berbeda terlihat mengagumkan di sepanjang perairan Sungai Tayan. Langit biru mulai tampak saat fajar mulai terlihat sedikit demi sedikit menyingsing diufuk timur.
Beberapa perahu, kapal motor hingga speed boat terlihat tertambat di tepian sungai. Di antara jamban yang berupa seperti rakit dan keramba ikan milik warga setempat.
Tampak pula, tempat mengambil wudhu Masjid Jami' Darussalam masih terawat baik di tepi sungai dengan nuansa perpaduan warna kuning dan hijau. Sementara di daratan, tak jauh dari masjid jami', masih berdiri Istana atau Keraton Pakunegara Tayan, yang merupakan situs cagar budaya istana raja-raja Tayan.
Asia merupakan satu di antara warga yang pernah menjadi penambang perahu motor di sekitar perairan Sungai Tayan.
Menurut bapak dua anak ini, ia sudah sejak 15 tahun silam menggeluti dunia jasa transportasi air di Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, namun sejak awal tahun 2016 berhenti menambang perahu motor.
"Saya sejak tahun 1990, dulu dari Pulau Tayan ke luar-luar kota, masuk-masuk kampung. Dulu kan mau ke kampung-kampung belum ada jalan, jadi kalau ada yang mau balik ke kampungnya, hanya bisa melalui sungai," ungkapnya, Kamis (28/7/2016).
Menurut kisahnya, saat pertama kali berprofesi sebagai penambang perahu motor. Untuk menyeberangi Pasar Kawat ke Pasar Pulau Tayan atau sebaliknya, penumpang dikenakan tarif Rp 500 perorang untuk sekali penyeberangan.
"Akhirnya minyak semakin naik, tarifnya pun naik sampailah sekarang Rp 3 ribu. Sekarang karena sudah ada Jembatan Kapuas Tayan, jadi dari Pasar Kawat ke Pasar Pulau Tayan, jadi banyak yang sudah pakai kendaraan sendiri, pakai sepeda motor," jelasnya.
Jika pada tahun 2015 ia masih menggeluti profesi penambang perahu motor, maka sejak kehadiran Jembatan Kapuas Tayan pada Maret 2016, ia mengisahkan kini ia dan sebagian penambang perahu motor lainnya beralih profesi ke bidang lainnya, untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Karena penghasilan kan sudah semakin berkurang. Masih ada sih yang nambang, masih ada, tapi sudah kuranglah. Kalau dulu lebih 80 anggota kami," terangnya.
Lanjut Asia, untuk menambang perahu motor tak bisa sembarang orang. Setiap penambang harus pula telah mengantongi izin trayek.
"Dulu perhari masih bisa dapat Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu. Biasa juga sampai ratusan ribu. Ndak tetap juga lah penghasilan dulu, tapi masih ada lah, setelah jembatan diresmikan makin jauh penghasilan, semenjak itu saya tidak menambang lagi, berhenti," kisahnya.
Kini, ia terpaksa harus memutar otak agar dapat tetap mengepulkan asap dapur. Dengan berbekal keterampilannya menebar jala, Asia kini hanya mencari ikan di perairan Sungai Tayan, dan di sungai-sungai kecil di sekitarnya.
"Sekarang cari ikan dengan jala, bisa lah mencukupi untuk makan. Kalau di rupiahkan masih dapat Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu sekali turun," sambung Asia.
Simak selengkapnya dalam video di atas.