Bukan Kemarau, Ternyata Ini Penyebab Curah Hujan di Kalbar Berkurang
Namun karena ada gangguan cuaca di utara, hujan 50 milimeter ini hilang dibawa ke utara
Penulis: Hadi Sudirmansyah | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Stasiun Klimatologi Siantan menilai, minimnya curah hujan di Kalimantan Barat dalam beberapa pekan terakhir bukan karena telah memasuki musim kemarau, melainkan akibat adanya gangguan pola cuaca di bagian utara Kalimantan.
Kepala Stasiun Klimatologi Siantan Wandayantolis menjelaskan, dengan demikian seluruh uap air yang ada di wilayah Indonesia yang melintasi pulau Kalimantan tersedot dan terbawa ke bagian utara sehingga udara menjadi kering.
"Kondisi cuaca di Kalbar yang kekurangan hujan sejak 15 hari terakhir. Ini terjadi karena ada gangguan pola cuaca di utara, sehingga seluruh uap air yang ada di wilayah Indonesia yang melintas di wilayah Kalimantan, disedot dan dibawa ke utara, sehingga curah hujan menjadi berkurang," tutur Wandayantolis di Kantor Stasiun Klimatologi Siantan, Jalan 28 Oktober, Pontianak Utara, Rabu (13/7/2016) .
Lanjutnya, kendati memang secara umum curah hujan menurun sejak bulan Juni 2016, namun dia mengungkapkan belum memasuki musim kemarau. Sebenarnya jika tidak ada gangguan cuaca itu, potensi hujan masih akan tetap terjadi, walau dengan intensitas kecil.
BACA JUGA: Lahan Terbakar, Tim Gabungan Tak akan Tinggal Diam
"Memang secara umum di tempat kita ini seharusnya fase curah hujan menurun sejak Juni, sebab bagian selatan akan mengalami musim kemarau, tetapi walaupun curah hujan menurun, tetap masih ada hujan lebih dari 50 milimeter. Namun karena ada gangguan cuaca di utara, hujan 50 milimeter ini hilang dibawa ke utara," ujarnya.
Lalu akan tetapi, pihaknya memperkirakan gangguan pola cuaca tersebut tidak akan berlangsung lama. Pada akhir Juli mendatang atau memasuki bulan Agustus, potensi hujan akan kembali ada, lantaran telah mendapat pasokan uap air dari Pasifik, seiring masuknya Lanina di wilayah Indonesia.
"Prediksi kami, di akhir Juli kita akan mendapat kembali hujan, karena akan ada pasokan uap air dari pasifik, seiring masuknya Lanina di wilayah Indonesia," ungkapnya.
Terkait dengan sejumlah titik api yang ada di beberapa wilayah Kalbar, belakangan ini, menurutnya pula disebabkan keringnya udara karena tidak ada hujan. Secara kebetulan, kemarin sebut dia, terjadi hujan cukup deras di sebelah utara Kalimantan.
"Nah munculnya titik api, sejak tanggal 10 Juli sampai kemarin, karena memang udara sangat kering karena kita tidak hujan. Namun atas kerjasama berbagai pihak, titik api berhasil dipadamkan.
Dari update satelit Modis tadi pagi, sambung dua, jumlah titik api terpantau hanya satu dan itu pun dengan tingkat kepercayaan 66 persen. "Jadi usaha yang dilakukan oleh stakeholder untuk memadamkan api, cukup membuahkan hasil," tuturnya.
Sementara Asisten Operasi Kepala Staf Komando Daerah Militer (Asops Kasdam) XII/Tanjungpura Kolonel Inf Muhammad Muchidin, SSos menyampaikan ada beberapa titik panas (Hot Spot) di wilayah Kodam XII/Tpr yang harus segera ditindaklanjuti oleh seluruh anggota TNI.
Pernyataan Asops Kasdam XII/Tpr Kolonel Inf Muhammad Muchidin tersebut menekankan kepada seluruh prajurit TNI AD khususnya jajaran Kodam XII/Tpr untuk memberikan respon terhadap peristiwa yang terjadi di sekitar, seperti diantaranya bila melihat terjadi kebakaran hutan atau lahan.
"Kepada prajurit TNI AD jajaran Kodam XII Tpr baik yang dinas khusus maupun yang tidak, bila melihat titik api segera laporkan ke Komandan Satuan masing-masing. Selain itu juga turut melakukan tindakan untuk memadamkan api, gunakan sarana prasana yang ada dulu," tegasnya
Tak hanya itu Asops Kasdam XII Tpr ini juga menyampaikan bahwa prajurit Kodam XII/Tpr masih ada yang dinas pengamanan Lebaran sampai waktu tidak ditentukan, kegiatan tersebut dalam rangka memberikan rasa aman kepada masyarakat banyak.
"Untuk memperketat pengamanan markas dan kesatrian serta asrama untuk mengantisipasi hal-hal tak di inginkan, pengamanan sesuai aturan dan protap yang sudah ada", katanya.