Menulis Jaga Keabadian
Kita dibimbing untuk menuangkan ide-ide dalam tulisan. Mulai dari penulisan, hingga proses editing kita lakukan
Penulis: Nasaruddin | Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Menulis bagi Rima adalah kesenangan. Sejak kecil dirinya sudah terbiasa menulis catatan harian. Mengabadikan apa yang dirasakan, dialami dan dilihatnya pada hari itu. Terlebih sedari kecil dirinya berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti tempat tugas orangtuanya.
"Saya sering menulis di blog, diary. Karena sering berpindah-pindah tempat tinggal, inspirasi untuk tulisanpun semakin banyak," katanya kepada Tribun, Jumat (10/6/2016).
Meski hobi menulisnya sempat terhenti saat SMP dan SMA, kemampuan menulisnya kembali diasah saat masuk ke bangku kuliah. Untuk meningkatkan kemampuannya menulis, Rima bergabung dalam Forum Indonesia Menulis. Masuk dengan seleksi, mereka kemudian mendapat materi guna mempertajam kemampuan menulis.
"Kita dibimbing untuk menuangkan ide-ide dalam tulisan. Mulai dari penulisan, hingga proses editing kita lakukan," katanya.
Kelahiran Sintang ini tak menulis romantisme percintaan layaknya kebanyakan anak muda. Rima justru lebih banyak menulis pengalaman hidup seseorang dalam mencapai kesuksesan hingga lahir buku kumpulan cerpen, Jejak Pelangi di Khatulistiwa.
"Saya kumpul-kumpulkan cerita yang ada. Pengalaman pribadi orang mencapai kesuksesan. Pengalaman itu yang kemudian ditulis lalu dirangkai menjadi sebuah cerita fiksi," katanya.
Banyak hal menurutnya yang terungkap dari cerita pengalaman pribadi orang-orang yang kemudian menjadi inspirasinya. Namun dirinya tetap memilih dan memilah mana saja yang bisa diolah menjadi cerita fiksi.
"Tidak ada wawancara khusus. Hanya mendengar cerita-cerita teman dan orang terdekat. Banyak cerita yang didapat tapi tetap dipilih mana saja yang saya rasa bisa menginspirasi pembaca," katanya.
Pada karya pertama yang ditulisnya sendiri ini, Ima ingin memotivasi muda-mudi melalui cerita, agar bersemangat dalam meraih cita-cita. Bagaimana usaha yang sungguh-sungguh akan berakhir pada titik hasil terbaik. Karena tidak ada hasil yang mendustai usaha.
Berhasil menerbitkan buku pertama membuatnya ketagihan untuk kembali menghasilkan karya-karya baru. Terlebih dirinya mendapat masukan dan apresiasi positif dari pembaca Jejak Pelangi di Khatulistiwa.
"Rencananya memang akan kembali membuat karya baru. Rencananya dalam bentuk novel. Sejauh ini mencari inspirasi yang memang sulit," jelasnya.
Baginya, menulis adalah menjaga keabadian. Karya yang dihasilkan bisa menjadi kenangan. Kebahagiaan semakin terasa saat karya yang dibuat menginspirasi banyak orang seperti cerita-cerita dalam Jejak Pelangi di Khatulistiwa.
"Mengubah negeri tidak akan mampu dilakukan seorang diri. Namun mengubah diri sendiri menjadi manusia yang berguna bagi orang lain merupakan cara sederhana yang dapat dilakukan," pungkasnya.
Bangga Wakili Kayong Utara
Sering berpindah-pindah tempat tinggal, membuat Rima memiliki banyak teman dan mengetahui beragam bahasa di tempat ia menetap. Beragam bahasa daerahpun diketahuinya meski tidak sepenuhnya.
"Kalau bahasa Dayak Sintang, bisa sedikit saja. Untuk bahaya Melayu di Kayong Utara sekitar 50 persenlah," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/rima-rafiqoh-1_20160619_111202.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/rima-rafiqoh-2_20160619_111340.jpg)