Ramadan 1437 H

9 Jam Bekerja di Bawah Panas Terik Matahari, Hafid Komitmen Tuntaskan Puasa

erik panas matahari, seakan jadi tantangan tersendiri baginya, ditengah beratnya pekerjaan yang mesti dilakoninya itu.

Penulis: Ishak | Editor: Arief
9 Jam Bekerja di Bawah Panas Terik Matahari, Hafid Komitmen Tuntaskan Puasa - pekerja-jalan-goreng-aspal_20160615_205541.jpg
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISHAK
Pekerja tengah menggoreng pasir aspal jalan untuk pengerjaan proyek perbaikan jalan di Kubu Raya, Rabu (15/06/2016) siang.
9 Jam Bekerja di Bawah Panas Terik Matahari, Hafid Komitmen Tuntaskan Puasa - pekerja-jalan-2_20160615_210056.jpg
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISHAK
Hafid di tengah aktivitasnya bekerja dalam proyek perbaikan jalan di Kubu Raya, Rabu (15/06/2016) siang. Meski harus bekerja di bawah panas terik matahari, dan tantangan rasa haus dan dahaga, ia tetap berkomitmen menuntaskan puasanya.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Matahari tengah terik-teriknya menyinari bumi. Panasnya terasa membakar kulit. Di muka bumi yang seakan mengering, belasan buruh kasar sibuk menyelesaikan pekerjaannya.

Satu di antaranya adalah Hafid (27). Ia bersama rekan-rekannya, didapati sedang mengerjakan proyek perbaikan jalan raya, di jalan poros Pontianak - Rasau Jaya, Rabu (15/06/2016) siang.

Ramadan ini, ia kembali harus disibukkan dengan pekerjaan yang mulai dilakoninya sejak 2010 silam itu. Terik panas matahari, seakan jadi tantangan tersendiri baginya, ditengah beratnya pekerjaan yang mesti dilakoninya itu.

“Mau bagaimana lagi bang. Namanya juga nyari nafkah buat keluarga. Rezekinya ada di sini (kerja buruh proyek perbaikan jalan raya). Berat tak berat harus dijalani,” ujar ayah beranak satu ini.

Tuntutan ekonomi keluarga memang disebutnya jadi alasan utama ia melakoni pekerjaan ini. Pasalnya, sejak hijrah dari Bima, Nusa Tenggara Barat, ke Pontianak beberapa tahun silam, hanya pekerjaan jenis inilah yang selalu dikerjakannya.

Maka, saat Ramadan tiba, hal inipun menjadi tantangan baginya. Meski begitu, ia mengaku tetap berupaya sebisa mungkin untuk menyelesaikan puasanya.

Meskipun, dalam sehari, ia harus memeras keringat sejak pukul 07 pagi, hingga pukul 05 sore. Hanya ada jeda waktu selama sekitar satu jam saja untuk beristirahat, dari pukul 12 siang hingga pukul 01 siang.

Dirinya mengakui pekerjaannya bukan pekerjaan mudah. Terlebih, dirinya tetap harus berpuasa di tengah haus dahaga yang teramat sangat. Beberapa temannya, disebutnya memilih tak berpuasa agar bisa bekerja optimal.

BACA JUGA: Hukum Tidak Berpuasa karena Pekerjaan Berat

Pada momen - momen tertentu, hal itu cukup mengganggunya, namun baginya, puasa adalah kewajiban kepada Tuhan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Selama masih memungkinkan, dirinya mengaku akan mengupayakan semaksimal mungkin tetap berpuasa.

“Tetap (berpuasa) bang. Paling berat itu tantangannya cuma haus. Kalau lapar ndak terlalu. Alhamdulillah selama ini biasanya bisa tahan,” tuturnya dengan keringan yang memenuhi wajah dan sekujur tubuhnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved