Datangi Komnas HAM, Warga Jungkat Minta Gusur

Asap itu kemudian mengendap di atap rumah sehingga air hujan tidak bisa dikonsumsi.

Penulis: Nasaruddin | Editor: Steven Greatness
Tribun Pontianak/Nasaruddin
Warga Jl Pelabuhan Jungkat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah mengadukan masalah yang mereka hadapi ke ketua Komnas HAM Kalbar, Kasful Anwar, Jumat (20/5). Kedatangan warga ini mewakili delapan Kepala Keluarga yang meminta agar digusur dari tempat tinggalnya karena tidak tahan dengan kebisingan mesin PLTD di area PLTU Jungkat. Tribun Pontianak/Nasaruddin 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Nasaruddin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Enam warga Jl Pelabuhan Jungkat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah mendatangi kantor Komnas HAM Kalbar, Jumat (20/5/2016).

Kedatangan warga ini mewakili delapan Kepala Keluarga yang meminta agar digusur dari tempat tinggalnya.

"Kami sangat mendukung program pemerintah untuk menyediakan konsumsi listrik demi kesejahteraan rakyat dengan membangun pembangkit-pembangkit di daerah. Untuk itu kami siap untuk pindah tempat tinggal dengan cara ganti rugi (digusur) demi kelancaran operasional mesin PLTD. Namun hingga kini tidak ada kejelasan mengenai itu," ungkap satu di antara warga, Hasanudin.

Dirinya menjelaskan, sejak mesin PLTD beroperasi di lokasi pembangunan PLTU Jungkat, mengakibatkan kebisingan yang mengganggu warga sekitar. Untuk berbicara di dalam rumah saja, Hasanudin mengaku kesulitan akibat kerasnya suara mesin.

"Kalau mau ngomong berulang-ulang baru jelas. Ketika mesin menyala, kita di luar rumah, suaranya terasa makin keras. Kalau ada dokter sini, boleh langsung diperiksa telinga saya ini," katanya.

Belum lagi getaran mesin pembangkit yang mengakibatkan rumah miliknya dan warga sekitar ikut bergetar. Pun demikian dengan asap yang keluar dari cerobong mesin pembangkit tersebut bertebaran di sekitar rumah penduduk. Asap itu kemudian mengendap di atap rumah sehingga air hujan tidak bisa dikonsumsi.

"Kami mendukung upaya pemerintah. Tapi kitakan semua pasti mau tenang. Agar sama-sama tenang, kita minta direlokasi saja. Pindahkan kami ke tempat lain sehingga kami bisa tenang," katanya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved